Selasa, 06 Desember 2011

monolog...from jelata

NASKAH MONOLOG     “G E N D I S”                                                  

Di siang hari yang sangat terik Gendis (18 tahun) menyusuri jalan dengan mendendangkan lagu-lagu untuk recehan rupiah yang menjadi pemasukan bagi kehidupannya sebagai anak jalanan.
Gendis (1) : “ Ribuan kilo jalan ku tempuh….
                       Tapi hanya peluh….
                       Yang selalu ku unduh….
                                    Begini nasib jadi anak jalanan….
                                    Ibu kawin lagi, bapak jadi napi….
                                    Si adik jadi preman teri….”(rintihan dan nyanyian Gendis)
Gendis (2) : “ Aduh lapar….(memegangi perutnya dan melihat kardus-kardus diatas   
            sampah dan Gendis berniat mengambilnya)
Gendis (3) : “ Wah makanan, Rapat DPR ( membaca tulisan di kardus makanan itu)
astaqfirulloh aladzim…tapi ini kan nasi sisa udah dibuang pula, jadi nggak perlu takut ini nasi terdeteksi atau terkontaminasi dengan bahan-bahan korupsi, hee heee lumayan buat isi perut ku yang kosong.”
Gendis (4) : “ (setelah makan makanan itu) aduh perutku kok sakit melilit begini, aduhhh.”
Gendis (5) : “ lebih baik aku muter radio ini aja deh…aduh tapi kok masih sakit!!”
Gendis (6) : “ (mendengar musik) nggak di Koran, televise, radio, semuanya tentang
Gayus. Gayus…Gayus buat perutku tambah murus ae. Aduh Bu Endang jenengan iku nopo mboten ngertos tow cah ayu seng denok deblong sing terdampar di sudut Indonesia bagian Ngawi tepat e di Dawu ini lagi laparrrrrrrr.”
Gendis (7) : “ Andai Ibu nggak kawin lagi pasti aku nggak akan begini, andai bapak
nggak nyuri ayam pasti nggak dipenjara. Bapak, Ibu aku kangen kalian   berdua. Aku iri dengan Gayus yang korupsi berjuta-juta uang rakyat tapi enak dipenjara. Bisa refresing ke Bali, Macau. Sedangkan Bapakku hanya izin ke Dawu nengok aku aja nggak dibolehin. Huhhhh…..
Andai ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke Bali
Dan semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
                                    Lucunya di negeri ini
                                    Hukumnya bisa dibeli
                                    Kita orang yang lemah
                                    Pasrah akan keadaan….(menyanyi)”
Gendis (8) : “ (bunyi Hp) ada apa Nu…aku nggak mau ya jadi menejer preman buat kamu itu perbuatan yang merugikan orang lain, apalagi sampai kamu ngajak aku untuk tinggal di rumah ibu dan bapak baru…diiihhh ogahhhh ya aku nggak mau bangett, bapak barumu itu seorang koruptor, tahu nggak koruptor itu orang yang makan uangnya rakyat, uang pembangunan dll. Aku nggak mau TITIK.” (mendengar suara bukan Benu adiknya)
Gendis (9) : “ lho ini kan Hp dan nomor adik saya kan mbak? Apa??? Rumah sakit??? Kamar mayat??? (Gendis syok dan pingsan)

Sungguh malang nasib Gendis, ternyata Benu adiknya dan Ibu kandungnya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kini hidup Gendis benar-benar berat kehilangan orang yang sangat dicintainya mesti tak tinggal serumah dan bapaknya masih dipenjara selama 6 tahun.





                                                                                                                             

cerpen


LANTUNAN TAKDIR-MU

            Terik sang surya sangat menyengat. Hempasan debu-debu jalan tak hentinya menyapu wajahku yang kian kusam. Opera kehidupan membuat tubuhku kurus dan kelopak mataku kian cekung dihiasi garis-garis dipipi yang menyiratkan betapa berat aku harus menjalani hidup. Kayuhan demi kayuhan tak patahkan semangat untuk mengais rezeki Ilahi. Bermodal sepeda tua inilah aku dapat membagi senyuman untuk ketiga adikku. Membelikan mereka pakaian, makanan, mainan, dan kebutuhan sekolah. Tiap hari aku menguras tenaga dengan berkeliling mengitari sudut bumi Yogyakarta bersama sepeda tuaku untuk berjualan aneka sayur-mayur. Permainan Ilahi yang rumit dan berbelit-belit kujalani dengan kesabaran agar esok dan seterusnya bisa kulihat senyum Tari, Ikhwan, dan Ilham.

            Hari ini langit pekat bergelayut di bumi Yogyakarta. Pikiranku bergelak tak karuan karena penyakit Ikhwan kambuh. Rencananya aku ingin libur berjualan untuk merawat Ikhwan, tapi apa daya himpitan ekonomi mendorongku untuk tetap bekerja agar bisa membeli obat untuk Ikhwan. Sebelum kupergi kulihat Ikhwan begitu lemah dan lunglai, sementara Tari dan Ilham nampak berat hati untuk berangkat sekolah.
Mbakyu tega meninggalkan Ikhwan, kenapa mbakyu tidak libur saja?” ujar Tari dengan mata memerah.
“ Andai mbakyu libur pasti esok dan seterusnya Ikhwan akan begini keadaannya, mbakyu harus cari uang untuk beli obat Ikhwan.”
“ Ya sudah terserah mbakyu. Hari ini kelas 5 dan 6 ada tambahan pelajaran, jadi Tari dan Ilham pulang sore. Tari harap mbakyu bisa pulang lebih awal.”
“ Siap, adikku yang manis. Sekarang kalian berdua berangkat sekolah. Jangan lupa bawa mantel kreseknya, ini musim yang konyol hujan bisa datang kapan saja.”
Injeh mbakyu, Tari dan Ilham berangkat sekarang. Assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam. Hati-hati neng dalan.”
Mereka berdua berlalu dengan lambaian tangan dan senyum bercampur guratan sedih yang tertangkap olehku.

            Kusandarkan kepalaku di dinding bambu yang cukup rapuh. Betapa berat hidup ini seolah dunia begitu kikir untuk aku, Tari, Ikhwan dan Ilham. Aku hanya memiliki dua tangan dan dua kaki tapi permainan-Mu sungguh membuat hamba tak berdaya. Kuhamburkan pandanganku disudut ruang yang gelap, kutangkap pukul 07.00 WIB saatnya aku harus mengayuh sepeda dan menjalani tugas rutinku.
“ Ikhwan mbakyu berangkat dulu. Hati-hati dirumah ojo kluyuran ya. Doain dagangan mbakyu laris manis.”
“ Injeh mbakyu. Aminn.”

            Ikhwan terus sesenggukan dengan nafas yang berat dan sesak. Tak ada sesuatu dalam rumah biliknya yang dapat menjadi penahan rasa sakitnya. Mata Ikhwan dengan jeli mencari sesuatu dalam sudut ruang. Tangan kiri Ikhwan meremas-remas perutnya yang kecil dan krempeng, sedangkan tangan kanannya memegangi dadanya yang makin berisik dan terasa makin sesak.
“ Yah…nasi dan krupuk lagi, katanya jual sayur tapi sayurnya selalu absen, hanya jum’at dan sabtu hadir di meja reot ini. Memangnya sayuran mahal? Kalau begini mana bisa aku sehat. Kata mbakyu jual sayur adalah tugas mulia karena membantu Bu menkes Endang Rahayu Sedyaningsih untuk menyehatkan rakyat Indonesia tapi nyatanya adik sendiri tidak disehatkan. Mbak Ela pelit, medit.” gerutu Ikhwan kesal. Tak kuat menahan rasa laparnya, Ikhwanpun melahap menu sarapan yang disiplin dan familiar di sajikan di rumah biliknya yang cita rasanya jauh dari enak.




            Surya Yogyakarta kian meninggi namun langit mendung bergelayut manja. Dibalik debu yang menempel pada jam dinding yang usang menunjukkan pukul 11.00 WIB. Ikhwan masih dalam keadaannya. Tapi Ikhwan keluar rumah dan menghamburkan pandangannya seakan mencari seseorang yang dapat membantu rasa sakitnya. Dia terus berjalan melewati lorong-lorong kumuh di tempat tinggalnya yang dekat dengan TPA. Didapatinya petugas kebersihan dengan seragam kuning yang mendorong gerobak sampah dengan tertatih-tatih menuju TPA.
“ Pak tolong antarkan saya ke Puskesmas!”
“ Memangnya sampean sakit tho le?”
“ Asma saya kambuh Pak, tolong saya Pak!” ujar Ikhwan dengan suara kian melemah.

***
            Riuh gemuruh kian  mengembang dan meninggi. Hentak gementak langkah makin menjadi-jadi. Langkahku makin berat dan letih, padahal masih banyak sayur yang harus kubeli. Pikiranku berarak tak tentu arah, aku pusing dan bingung. Kini yang terlintas hanya wajah Ikhwan yang merintih dan berbaring tak berdaya di rumah sakit, serta raut duka diwajah lugu Tari dan Ilham.
“ Laa haula wa laa kuwata illa billah, Engkau Maha Membolak-balikkan nasib berilah hamba kekuatan menjalani hidup ini dari semua cobaan dan permainan-Mu yaa Rabb”, rintihku dalam hati.
Kulanjutkan langkah yang sempat terhenti untuk menyusuri pasar. Setelah sayur-mayur siap dalam keranjang, segera kukayuh sepeda tuaku untuk mengelilingi kompleks perumahan Yogyakarta yang mewah dan asri.

            Lima jam berlalu dengan cepat. Digenggamanku ada 250ribu hasil berjualan sayur. Kuayunkan langkah kakiku menuju ruang administrasi rumah sakit. Dalam keadaan payah kulanjutkan langkahku menuju kamar kelas III mawar dengan 4 bungkus nasi ditanganku. Tak kuduga ternyata Pak Said berada dalam ruang tersebut diiringi gelak canda tawa Tari, Ikhwan, dan Ilham. Pak Said adalah sosok yang kharismatik, tawadu’, dan dermawan walaupun beliau hanya seorang petugas kebersihan. Kulepaskan segala penatku hari ini dengan mereka, larut dalam suasana yang menyenangkan diantara guratan hidup yang cukup menyiksaku.

            Ruang mulai sepi, detakan jarum jam mengiringi lelapnya tiga buah hatiku. Mataku dan mata Pak Said menatap mereka bertiga dalam nafas lelapnya.
“ La keadaan Ikhwan sudah mulai membaik, apakah biaya rumah sakit Ikhwan sudah beres?”
“ Mungkin dua hari lagi Ela bisa melunasinya Pak.”
“ Jika menunggu dua hari lagi berarti biaya makin bertambah tho La.”
Injeh lah Pak tentu akan bertambah, seandainya saya jualan emas atau berlian pasti hari ini Ikhwan sudah pulang dari rumah sakit.”
“ Ela..Ela..dalam kondisi seperti ini masih saja nglawak.”
“ Tapi Ela bukan keturunan Gogon, Kirun, atau Bagio lho Pak. Memang sudah nasib Ela Pak, jadi harus ikhtiar dan tawakal.”
“ Betul La, pancen becik pinuturmu.”
Injeh Pak Said, tapi Ela………”
Wis duk pokok e sing sabar lan nerimo. Ingat La, wong sing tekun golek teken mesti bakalan tekan, ngerti tho maksud e?
Injeh Pak, Ela ngerti.”
“ Ini La, tolong diterima untuk biaya Ikhwan.”
Mboten usah Pak Said, matur suwun.”
“ Sudah diterima saja, karena ini gaji Ikhwan sebab dia pernah bantu bapak nyapu alun-alun yang kotor setelah acara Agustusan kemarin.”
“ Ya sudah Pak, karena uang ini haknya Ikhwan saya terima untuk biaya rumah sakit. Matur suwun sanget Pak Said.”
“ Iya, sudah jam tiga pagi, saatnya bapak harus dinas kebersihan.”
“ Sepagi ini Pak said?”
“ Iya La, pagi-pagi itu hawane seger La.”
“ Ini Pak, jaket Ela pakailah!”
Nggak usah, kamu tahu nggak La kalau udara pagi itu merupakan seperempat dari udara surga. Jadi bapak ingin menikmatinya secara maksimal dan optimal.”
Hallah Pak bahasa jenengan iku lho. Oke, selamat menjalankan tugas mulia dalam segarnya udara surga ya Pak, dan hati-hati lho.”
“ Iya, assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam”.

            Mengobrol dengan Pak Said sungguh menyenangkan, tutur nasihatnya sangat merindukanku pada sosok almarhum bapak.
“ Bapak…Ela sangat rindu tutur bijakmu, Ibu…Ela sangat rindu alunan kasihmu. Andai turnamen maut Ilahi itu tidak terjadi pasti aku, Tari, Ikhwan, dan Ilham takkan serumit ini menjalani hidup. Tragedi gempa di hamparan Yogyakarta menjadi kenangan duka yang dalam.” rintihku dalam hati.

            Kubayangkan memori duka tiga tahun yang lalu. Dibalik reruntuhan bangunan rumah kulihat dengan nanar betapa Ibu sangat membutuhkan pertolongan. Tapi apa dayaku kepulan api yang semakin merambati dapur menghalangi langkahku tuk bangkit dari ruang keluarga yang berdampingan dengan dapur, dimana pagi itu Ibu sedang memasak. Bagai buah simalakama, aku bingung dan dilema siapa yang harus kuselamatkan lebih utama, apakah aku harus tetap menjaga Tari, Ikhwan, dan Ilham yang berada dalam dekapanku dengan tangisan yang menderu-deru ataukah menerjang api diantara reruntuhan dan goyangan bumi yang masih melantun dahsyat untuk menyelamatkan Ibu. Tangan, kaki, dan ragaku tak mampu menjangkau keadaan ini.

            Pasca dua hari setelah tragedi maut itu, hilang sudah semua harta benda yang keluargaku miliki. Hal yang lebih mengiris hati saat Tim SAR menginformasikan bahwa Ibu meninggal dunia dan Bapak turut menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Gempa itu menyisakan aku, Tari, Ikhwan, Ilham dan nafas-nafas insan duka yang lain. Sore itu kupandangi bangkai rumah mewahku yang sudah luluh lantah. Kutemukan sepeda untho milik Bapak bersandar di reruntuhan bangunan. Kuambil dan kukayuh untuk sisa nasibku dan sebagai cenderamata dalam tragedi maut ini, yang hingga kini masih kugunakan untuk menyambung hidup.
“ Tiga buah hatiku, tiga senyum bahagiaku, dipenghujung malam ini tidurlah dengan lelap mungkin besok akan lebih baik. Uang dari Pak Said ini dapat membiayai Ikhwan di rumah sakit.” gumamku dalam kantuk yang sangat.

***
            Pagi ini masih mendung, langit Yogyakartapun nampak hitam kelam. Namun langkahku begitu ringan menapaki bumi ini untuk mencari rezeki-Nya.
“ Siang nanti Ikhwan akan pulang dari rumah sakit dengan keadaan sehat. Yaa Rabb…segala puji untuk-Mu, tiga senyum bahagiaku akan menerpakan keceriaan dalam hidupku dan kerinduan akan kebersamaan dalam rumah yang hampir dua minggu kami tinggal.” bisikku dalam hati.
“ Kringgg...kringggg...” ringtone jadul handponeku berbunyi.
Mbakyu…mbakyu Ikhwan, itu darah, darah dari mulut  Ikhwan. Takut, takut, Tari takut. Mbakyu cepat kesini. Takut, takut, huhuhu…..” tangis Tari menderu.
“ Iya mbakyu, Ilham juga takut, takut, darah mas Ikhwan keluar, takut. Huhuhu….” tangis Ilham tak kalah kerasnya.
“ Ada apa dengan Ikhwan? Kenapa kembaranmu Ilham? Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis? Kenapa? Kenapa?” tanyaku bertubi-tubi.
“ Huhuhu….huhuhu” tangis mereka berdua memecah keras.
Tutt…tutt…tutt…
“ Hallo, hallo Tari, Ilham…innalilahi wa inna ilaihi roji’un, teleponnya terputus.”
“ Apa yang terjadi dengan Ikhwan? Yaa Rabb Engkau Maha Pembawa kabar gembira, jauhkan hamba dari kabar buruk Yaa Rabb.”
Kukayuh sepeda tuaku dengan kekuatan penuh dan kugenggam handponeku erat-erat berharap Tari akan menelpon kembali.

***
“ Yaa Rabb, Engkaulah dzat yang Maha Mengampuni dosa-dosa. Tunjukilah hamba pada sebaik-baik akhlak, karena hanya Engkaulah pemberi petunjuk kepada sebaik-baik akhlak. Jauhkanlah hamba dari akhlak yang buruk, karena hanya Engkaulah yang menjauhkan keburukan-keburukan akhlak dariku. Segala kebaikan berada ditangan-Mu dan kejahatan bukan dari-Mu. Yaa Rabb, luas kursi-Mu meliputi langit dan bumi, dan Engkau tidak merasa berat memelihara keduanya. Maka dari itu peliharalah hamba untuk istiqomah berjalan pada rahmat-Mu. Yaa Rabb, Engkau penguasa dan tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau tuhanku dan aku Hamba-Mu. Hamba hadapkan wajahku kepada dzat yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan condong dan pasrah kuterima lantunan takdir-Mu untukku. Derita hidup, kemiskinan, kesukaran adalah hiasan iman yang dibentangkan pada hamba-Mu. Dan semua titipan-Mu untukku akan kembali pada-Mu. Ikhlaskan hamba untuk melepas apa yang telah kumiliki”, parau suaraku penuh duka.

            Dipenghujung malam bergelayut bintang dan bulan yang mulai melampaui batas, menampakkan butiran bening di sudut mata yang menetes diatas tempat sujudku. Kuikhlaskan hati atas semua yang terjadi. Aku bernafas dengan Iradah-Mu dan menjadi detak syair nurani bumi-Mu. Kulantunkan ayat-ayatMu hingga jiwa pilu ini terang benderang oleh cahaya-cahaya ilahiyat dibawah sinar fajar yang merekah menerpakan karunia kasih abadi. Kukan lanjutkan hidup untuk Tari dan Ilham dengan segala lantunan takdir-Mu. Memang benar bahwa jejak, kenangan, kehilangan dan perpisahan adalah hakikat hidup. Ikhwan selamat jalan, tersenyumlah dalam penantian ukhrawi yang kekal. “ Yaa Rabb lantunan takdir-Mu menguatkanku dalam menggapai maqam cinta-Mu”, lirihku dalam perih dan senyum.



Sinopsis Cerpen “Lantunan Takdir-Mu”
Oleh: Uswatun Hasanah

Kehilangan, perpisahan, kesukaran, dan kemiskinan adalah lantunan takdir yang dibentangkan oleh Alloh kepada setiap hamba-Nya. Demikian juga dengan lika-liku hidup yang dijalani oleh Ela. Seorang gadis yang hidup dalam lingkar kemiskinan bersama ketiga adiknya. Alunan kasih sayang dari orang tua hanya menjadi memori kerinduan dalam benak mereka. Dalam himpitan ekonomi Ela harus bertanggung jawab demi keberlangsungan hidupnya, Tari, Ikhwan, dan Ilham.
Dapatkah Ela menghadapi lantunan takdir yang rumit dan berbelit-belit..??
Selamat membaca..!!!

puisi puisi


BANGUN
ku tak tahu mataku ini akan berbinar disaat pagi
Aku tak tahu akan langkahku yang kuterjang hari ini
Aku pun tak ta            hu kapan diri ini akan berpulang
Aku tak tahu kapan mata ini akan tertutup
Saat pagikah, atau malam bersama nafas mimpi berhembus
Tak tahu, tak tahu, dimana kah aku harus mencari jawaban
Wahai hati yang lalai….semua telah tertulis
Wahai bibir yang tajam….semua telah tergaris
Wahai tangan yang bertindak…semua telah terikrar
Wahai kaki yang beranjak…semua telah terkabar
Dimasa nafas fitrah sebelum kau diturunkan dibumi
Semua telah ditetapkan oleh sang Kholik
Sekarang mau apa kau..???
Wahai hati, kaki, bibir, dan pikir
Terdiamlah dalam sadar

TEGAP
Fajar merekah indah
Saat kaki beranjak
Datang walau serpihan duka
Terbungkus dalam azamku
Tekatku, gapaiku, ikhtiarku tak henti
Bentangan buih tajam bagai jarum tiap lantun kaki
Tepiskan jutaan harap, namun tetap tegap
Kasih abadi kan tetap menerpa
Menyapa tiap insan yang tak pernah putus asa




USAI
Mencintai….
Pelangi bergejolak dihati
Tak peduli serupa, sepadan, atau sama
Bahkan jauh lebih hina
Mataku, telingaku, tanganku menyentuhmu
Pikirku, rasaku, hatiku memelukmu
Sambar petir….melejit langit….
Terhenti ganas pada sepasang asa
Tambah lemah, cucuran itu mengalir
Kau dan aku tak bersua
Usai sudah………..

KHILAF MAAF
LangitMu megah
pelangiMu indah
naungi sanubari dibalik diri
tanami hati…dzikirku melantun
Kau  tersenyum
AwanMu muram
malamMu kelam
singgahi nurani dibalik asa
tumbuhi hati…dzikirku melemah
Kau tak tengok
Aku mendongak…sujud simpuh
Tangan menengadah…khilaf dan maaf





Janji-Mu

Lukisan langit hitam merona
Kerling itu tak nampak ada
Nafas insan terbuai mimpi
Parade binatang malam meninggi
Aku sepi…….

            Rautku basah oleh air suci
Berbagai guratan merona semu terlihat
Berlapis harap terukir
Kini aku berharap, aku berucap
Kini pintaku melata, aku percaya

Hari demi hari…
ku nanti bukan karena dengki
Ku tunggu bukan karen nafsu
Tapi ku nanti karena aku imani
Semua kalamMu


            Masih Ada

Dalam cercahku yg bersyair
Dalam pikirku yg mulai merindu
Saat bintang kehidupan jauh
Langit nmpak gelap oleh mendung yng kian mendesah
Diantara kelam itu masih ada setitik iman yang mengalir disanubari…Kuatku…

cerpen ARTI PANJI

ARTI PANJI
                        Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu….
                        Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu....
                        Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu....
                        Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal....
            Deretan syair lagu yang dilantunkan dengan tutur khas Iwan Fals mengawali tulisan ini. Ya...mungkin aku salah satu dari ribuan anak di tanah air yang menjadi inspirasi Bung Iwan untuk sebuah lagunya tersebut. Begitu dramatis kisah hidupku yang sudah jelas tertulis rapi dan elok dalam kitab-Nya. Aku bukanlah para pengunjung distro yang selalu modis dengan fashion yang menjadi trendcentre. Bukan pula anak pengusaha dengan limpahan saham, deposito, ataupun investasi. Fashion ala anak jalanan sudah match untuk paras standardku dan beberapa rupiah receh yang tak setiap waktu bisa ku dapat selalu ku syukuri. Panggilan beken "Benu Pengamen" sudah cukup memberi title di hamparan bumi ini. Dan Panji, yang berprofesi sama denganku adalah satu-satunya sahabat dalam gerai berbagi. Menjadikan perbedaan untuk menguatkan arti persahabatan. Berpondasi dalam satu ikatan. Kokoh, tegak, dan kuat dengan tiang persaudaraan.

            Lukisan langit masih nampak khas pekat dan kelam. Rongga-rongga air yang jatuh dari langit mengisyaratkan fenomena hujan. Bukan hal yang butuh tepuk tangan untuk menyambutnya. Bumi ini sudah cukup basah oleh guyuran hujan yang tak tentu musim. Usai merebahkan raga di mushola bersama Panji, kini jari kecilku perlahan-lahan membuka lembaran-lembaran buku bahasa indonesia. Dengan lentik ku goreskan kata demi kata diatas lembaran, ku putar otak agar goresan kata tak berhenti, kuhamburkan pandanganku di penjuru stasiun Petarukan, Pemalang dengan khas gaya linglungku. Namun jariku seolah berat untuk melanjutkan tulisan. Terhenti pada coretan-coretan layaknya gulungan benang yang saling berberai.

            "Jangan menyerah dong, tulisanmu sudah bagus layaknya garis lika-liku hidupmu yang tak karuan", kelakar Panji.
"Kacau, kacau, kacau Pan. Pikiranku kacau", kataku kesal.

            Bisingnya nada-nada kereta api yang tak beraturan membuatku tak bisa konsentrasi. Atau memang aku tak punya kemampuan untuk membuat tulisan cerpen. Aku akui bahwa aku sangat berbakat untuk menciptakan lagu hingga laguku tersohor ditiap gerbong kereta api Petarukan. Tapi untuk menerbangkan pikiran, menggugah imajinasi dengan ukiran tangan yang menari-nari diatas lembaran kertas aku tak bisa. Nasehat-nasehat sebagai bentuk penyemangat dari mulut Panji ibarat hempasan angin lalu bagiku. Toh realitanya memang aku tak bisa. Hingga pada hari yang lalu Panji sempat melontarkan kata-katanya yang membuatku membelalakkan mata dan telinga.

            "Dasar Benu banci. Kamu memang banci. Hanya untuk membuat tugas cerpen saja tidak bisa. Kalau kamu niat dan berusaha pasti bisa", begitulah nasehat Panji. Belum lagi kata-katanya yang sok bijak yang disadur dari seorang ilmuwan yang bernama Rhenald Kasali. "Action oriented harus kamu tanamkan, jika tidak kamu akan gagal dalam segala hal. Termasuk menjadi banci dalam diri". Dalam hati nuraniku menyadari bahwa yang dikatakan Panji benar adanya. Nasihat yang baik terkalahkan oleh sikapku yang mudah menyerah.


            Matahari mulai melampaui batas peraduannya. Langitpun mulai menyembunyikan detakan airnya. Menyisakan tanah basah yang harus ditapaki oleh detakan nafas diatas bumi. Ku langkahkan kaki bersama Panji untuk meninggalkan mushola menuju peron stasiun Petarukan yang tak jauh dari mushola. Mengisi perut di warung sederhana milik petugas stasiun. Sejenak ku lupakan kepenatanku untuk menyelesaikan tugas tadi. Ku santap dengan lahap gado-gado dan segelas teh manis yang aku minum berdua dengan Panji.

            "Besok cerpenmu sudah harus dikumpulkan, jangan sampai Bu Killa memarahi untuk kedua kalinya", kata Panji.
"Biarlah aku dimarahi. Toh memang aku belum buat. Aku akan minta waktu toleransi 2 hari. Pasti Bu Killa mengizinkan", kataku yakin.
"1 hari lagi, 2 hari lagi, 3 hari lagi. Itulah lagu lama yang akan diucapkan Bu Killa. Bu Killa pasti kill you kill you", ledek panji.
"Ingat Panji. Demi langit yang ada diatas kepalaku dan bumi dibawah kakiku 2 hari lagi Benu akan menghasilkan karya perdananya cerpen dengan judul 'Panji Sok Bijak' ingat itu janjiku", ikrarku.
"Walaupun judulnya tak enak didengar oleh telingaku, tapi it's ok akan ku tunggu karyamu", kata Panji dengan khas santainya.
"Hemmm pasti cerpenku lebih keren dari cerpen amatirmu. Ha ha ha", kelekar kami pecah dengan tawa persahabatan.
***



                        Ku arungi waktu...Ku bagi dua ruang...
                        Tempatku menimba ilmu dan menyambung hidup...
                        Tak bosan oh tak bosan...Tak letih oh tak letih...
                        Ku tetap berdiri walau tanpa sandaran ayah dan bunda...
            Alunan syair lagu melankolis salah satu karya yang mengangkat kisah hidup yang dilematis. Dan akulah lakon dari kisah tersebut sekaligus sebagai penciptanya. Sore ini aku dan Panji mulai menyusuri gerbong demi gerbong untuk recehan rupiah yang sangat berarti. Recehan rupiah untuk makan dan untuk sekolah kilat. Nada-nada gitar yang sudah labuh usia menggemakan irama yang masih indah mengiringi lagu melankolis dengan suara khas ku. Tatapan iba penumpang kereta api Brantas kelas ekonomi tertuju pada kami berdua. Entah apa pemikiran dan penilaian mereka tentang aku dan Panji. Toh ini sudah menjadi profesi rutin dan tak perlu risih apalagi malu untuk menanggapinya. Walau laguku tak setenar karya Bung Iwan, Bung Ebiet, atau Bang Piyu Padi, cukup dengan percaya diri duet Benu-Panji mampu mengembangkan senyum beberapa penumpang dan recehan rupiahpun bisa kami dapat.

            Beberapa gerbong sudah kami lalui. Dahagapun menghampiri. Ku turunkan kaki bersama Panji menuju stasiun Petarukan karena kereta api sudah berhenti. Seperti hari-hari lalu melepas letih di warung sederhana milik Pak Adi.

            "Panji, aku bangga dengan laguku tadi. Laguku bagus kan?", tanyaku.
"Tentu, siapa dulu yang memainkan nada gitarnya", oceh Panji.
"Selalu begitu, paling hobi memuji diri sendiri. Apa sedikit jalan darimu untuk membuatku tersenyum?", tanyaku memelas.
"Eitzzzz...jangan tersinggung Nu. Sedikit jalan untuk membuatmu tersenyum tapi banyak jalan untuk membuat orang lain tersenyum. Dan itu lebih mulia, itu kata Uje", tutur Panji.
"Iya...tersenyum karena laguku yang bagus dan penuh makna. Tak seperti lagu keong racun yang tersohor di mulut masyarakat setelah aksi Jojo-Sinta di youtube. Kita tak perlu media youtube atau yang lain. Cukup dengan panggung gerbong kereta api di perlintasan stasiun Petarukan dengan aksi duet Benu-Panji yang spektakuler sudah mampu menghibur", candaku.
"Ha...ha...ha...", tawa kami berdua pecah didalam warung.
"Bisa saja kamu Nu. Tapi betul juga sih. Ngomong-ngomong bagaimana nasib cerpenmu Nu?", tanya Panji.
"Hahh...aduhhhh!!!", ekspresiku kaget.
***
            Fajar mulai menjelang. Namun bulan dan bintang masih betah berhias di langit. Nafas-nafas insan masih dilelapkan oleh mimpi-mimpinya. Tapi aku masih menekuni kata demi kata untuk membentuk suatu cerpen. Kini hampir selesai.

            "Akan ku buktikan pada Bu Killa aku bisa membuat cerpen sehingga julukan 'Pembual Janji' tak dilontarkan Bu Killa untukku lagi. Dan ku buktikan juga pada Panji bahwa action oriented mulai tertanam pada diriku sehingga aku bisa dan aku mampu. Enyahlah julukan 'Banci' dari mulut Panji untukku", kataku yakin.

            Dalam lelapnya Panji terbangun.
"Kamu tidak tidur Nu?", tanya Panji.
"Hari ini aku tak butuh banyak tidur Pan."
"Masih sibuk nulis ya?"
"Iya, sudah hampir ending. Tapi aku bingung kisah ini lebih cocok dengan happy ending atau sad ending".
"Ya terserah kamulah. Nu antarkan aku ke mushola ya? Lagi pengen tahajud sekalian buang air kecil."
"Huuu...bilang saja yang kamu prioritaskan buang air kecil. Pakai alasan tahajud segala".
"Terserah ocehanmu Nu. Mau ngantar tidak?"
"Maaf Pan, lagi tanggung ini. Kamu sendiri saja ya? Episode Si Manis Jembatan Ancol 3, Pocong 4, dan Suster Ngesot 3 sudah habis kontrak kok".
"Kau pikir aku takut. Kalau tak mau ya sudah. Aku sendiri ke mushola".

            Akhir malam mulai menebarkan aroma semakin dingin. Aku mengeratkan jaket lusuhku sebagai penghangat. Aku sendirian dalam rumah bilik yang berdampingan dengan warung Pak Adi. Ku biarkan Panji berlalu menuju mushola sendiri. Hanya ku pandangi dia dari depan rumah. Dinginnya malam diiringi gelagat bising kereta api menuju stasiun.

            "Perhatian. Kereta api Senja Utama jurusan Jakarta-Semarang akan tiba di stasiun Petarukan, Pemalang", operator stasiun memberi info.

            Puluhan penumpang bergegas menuruni kereta api menuju peron-peron lantas dengan kejelian mencari sanak saudara yang menjemput. Sambutan tukang ojekpun juga menjadi ciri khas di stasiun setibanya kereta api. Kereta apipun dengan sabar menurunkan penumpang dengan hitungan beberapa menit saja. Namun dengan mata nanar dan terbelalak kaget dengan kecepatan penuh sebuah kereta api melintas 100 meter sebelah barat stasiun. Lantas dengan pasti menabrak kereta Senja Utama yang masih terhenti. Brakkkk.... Kontras rangkaian gerbong bergelempang dahsyat, susunan rangka kereta pecah, puing-puing kaca berhamburan. Penumpang dalam kedua kereta sama-sama memekikkan teriakan histeris. Aku tak kuasa melihat festival maut ini.
           
            Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku dengan Panji. Apakah dia masih dalam mushola ataukah dia hendak menyebrang perlintasan tepat peristiwa dahsyat tadi. Hatiku cemas, pikiranku beradu antara harapan dan kekhawatiran.

            "Panji kamu dimana?", tanyaku dalam hati.

            Seketika itu juga ambulan berdatangan, mobil polisipun turut berpartisipasi. Warga sekitar tak mau ketinggalan berjubel dengan mata jeli dan hati penuh cemas. Tubuhku terasa berat dan kaku melihat kejadian tadi. Ku paksakan raga ini untuk mencari Panji ditengah keramaian maut. Ku cari dalam mushola, ku susuri area perlintasan yang hancur, kulanjutkan langkah di peron-peron yang penuh dengan puing-puing kaca, tapi Panji tak juga menampakkan dirinya.

            3 jam berlalu, namun Panji belum kembali. Sinar matahari mulai meninggi. Air mata dan tangis berderai dipipiku. Aku bukan satu-satunya yang kebingungan dan sedih. Mereka juga tengah dilanda duka yang dalam.

            "Panji dimana kamu? Hari ini adalah hari aku akan menunjukkan hasil cerpenku padamu. Action oriented sudah mulai aku aplikasikan dalam langkahku tuk menemukanmu. Aku bukan banci lagi sobat. Panji dimana kamu?", teriakku memekik.
***

            Festival maut ilahi memang tak bisa ditebak. Satu menit orang bersama kita, satu menit pula Engkau menghilangkannya. Kembali ikatan persahabatan layaknya ujung tali-tali. Sebagian adalah harga mati dalam kadar saling berbagi. Sebagian lagi membentuk tatanan dan susunan dalam garis ketetapan Ilahi. Derai air mata, tangis, dan luka memecah di tanah air Indonesia. Entah siapa yang harus disalahkan. Namun secara pasti ini adalah takdir.

                        2 Oktober tak berseri...
                        Hasrat pada ilahi...
                        Pagi kau tunduk kan pergi...
                        Kini pagi tak bersambut Panji...
                        Menanti mimpi tuk berjumpa kembali...
                        Inikah arti Panji...
            Untaian kata mengakhiri cerpenku. 'Panji Sok Bijak' berganti dengan 'Arti Panji'. Menandakan karyaku berakhir dengan sad ending.




SINOPSIS CERPEN
"ARTI PANJI"
Oleh Uswatun Hasanah


            Ku bagi waktu menjadi 2 ruang yang berbeda. Untuk menuntut ilmu dan mencari rupiah tuk menyambung hidup. Begitu dramatis kisah hidupku yang sudah jelas tertulis rapi dan elok dalam kitab-Nya. Aku bukanlah para pengunjung distro yang selalu modis dengan fashion yang menjadi trendcentre. Bukan pula anak pengusaha dengan limpahan saham, deposito, ataupun investasi. Fashion ala anak jalanan sudah match untuk paras standardku dan beberapa rupiah receh yang tak setiap waktu bisa ku dapat selalu ku syukuri. Panggilan beken "Benu Pengamen" sudah cukup memberi title di hamparan bumi ini. Dan Panji, yang berprofesi sama denganku adalah satu-satunya sahabat dalam gerai berbagi. Menjadikan perbedaan untuk menguatkan arti persahabatan. Berpondasi dalam satu ikatan. Kokoh, tegak, dan kuat dengan tiang persaudaraan. Inilah kisahku yang mengangkat Benu dan Panji sebagai lakonnya. Menghadapi peristiwa dasyat yang tak diduga. Apakah persahabatan ini akan terjalin erat hingga ruh diraga terambil bersama?

***Selamat Membaca***