ARTI PANJI
Anak sekecil itu berkelahi dengan waktu….
Demi satu impian yang kerap ganggu tidurmu....
Anak sekecil itu tak sempat nikmati waktu....
Dipaksa pecahkan karang, lemah jarimu terkepal....
Deretan syair lagu yang dilantunkan dengan tutur khas Iwan Fals mengawali tulisan ini. Ya...mungkin aku salah satu dari ribuan anak di tanah air yang menjadi inspirasi Bung Iwan untuk sebuah lagunya tersebut. Begitu dramatis kisah hidupku yang sudah jelas tertulis rapi dan elok dalam kitab-Nya. Aku bukanlah para pengunjung distro yang selalu modis dengan fashion yang menjadi trendcentre. Bukan pula anak pengusaha dengan limpahan saham, deposito, ataupun investasi. Fashion ala anak jalanan sudah match untuk paras standardku dan beberapa rupiah receh yang tak setiap waktu bisa ku dapat selalu ku syukuri. Panggilan beken "Benu Pengamen" sudah cukup memberi title di hamparan bumi ini. Dan Panji, yang berprofesi sama denganku adalah satu-satunya sahabat dalam gerai berbagi. Menjadikan perbedaan untuk menguatkan arti persahabatan. Berpondasi dalam satu ikatan. Kokoh, tegak, dan kuat dengan tiang persaudaraan.
Lukisan langit masih nampak khas pekat dan kelam. Rongga-rongga air yang jatuh dari langit mengisyaratkan fenomena hujan. Bukan hal yang butuh tepuk tangan untuk menyambutnya. Bumi ini sudah cukup basah oleh guyuran hujan yang tak tentu musim. Usai merebahkan raga di mushola bersama Panji, kini jari kecilku perlahan-lahan membuka lembaran-lembaran buku bahasa indonesia. Dengan lentik ku goreskan kata demi kata diatas lembaran, ku putar otak agar goresan kata tak berhenti, kuhamburkan pandanganku di penjuru stasiun Petarukan, Pemalang dengan khas gaya linglungku. Namun jariku seolah berat untuk melanjutkan tulisan. Terhenti pada coretan-coretan layaknya gulungan benang yang saling berberai.
"Jangan menyerah dong, tulisanmu sudah bagus layaknya garis lika-liku hidupmu yang tak karuan", kelakar Panji.
"Kacau, kacau, kacau Pan. Pikiranku kacau", kataku kesal.
Bisingnya nada-nada kereta api yang tak beraturan membuatku tak bisa konsentrasi. Atau memang aku tak punya kemampuan untuk membuat tulisan cerpen. Aku akui bahwa aku sangat berbakat untuk menciptakan lagu hingga laguku tersohor ditiap gerbong kereta api Petarukan. Tapi untuk menerbangkan pikiran, menggugah imajinasi dengan ukiran tangan yang menari-nari diatas lembaran kertas aku tak bisa. Nasehat-nasehat sebagai bentuk penyemangat dari mulut Panji ibarat hempasan angin lalu bagiku. Toh realitanya memang aku tak bisa. Hingga pada hari yang lalu Panji sempat melontarkan kata-katanya yang membuatku membelalakkan mata dan telinga.
"Dasar Benu banci. Kamu memang banci. Hanya untuk membuat tugas cerpen saja tidak bisa. Kalau kamu niat dan berusaha pasti bisa", begitulah nasehat Panji. Belum lagi kata-katanya yang sok bijak yang disadur dari seorang ilmuwan yang bernama Rhenald Kasali. "Action oriented harus kamu tanamkan, jika tidak kamu akan gagal dalam segala hal. Termasuk menjadi banci dalam diri". Dalam hati nuraniku menyadari bahwa yang dikatakan Panji benar adanya. Nasihat yang baik terkalahkan oleh sikapku yang mudah menyerah.
Matahari mulai melampaui batas peraduannya. Langitpun mulai menyembunyikan detakan airnya. Menyisakan tanah basah yang harus ditapaki oleh detakan nafas diatas bumi. Ku langkahkan kaki bersama Panji untuk meninggalkan mushola menuju peron stasiun Petarukan yang tak jauh dari mushola. Mengisi perut di warung sederhana milik petugas stasiun. Sejenak ku lupakan kepenatanku untuk menyelesaikan tugas tadi. Ku santap dengan lahap gado-gado dan segelas teh manis yang aku minum berdua dengan Panji.
"Besok cerpenmu sudah harus dikumpulkan, jangan sampai Bu Killa memarahi untuk kedua kalinya", kata Panji.
"Biarlah aku dimarahi. Toh memang aku belum buat. Aku akan minta waktu toleransi 2 hari. Pasti Bu Killa mengizinkan", kataku yakin.
"1 hari lagi, 2 hari lagi, 3 hari lagi. Itulah lagu lama yang akan diucapkan Bu Killa. Bu Killa pasti kill you kill you", ledek panji.
"Ingat Panji. Demi langit yang ada diatas kepalaku dan bumi dibawah kakiku 2 hari lagi Benu akan menghasilkan karya perdananya cerpen dengan judul 'Panji Sok Bijak' ingat itu janjiku", ikrarku.
"Walaupun judulnya tak enak didengar oleh telingaku, tapi it's ok akan ku tunggu karyamu", kata Panji dengan khas santainya.
"Hemmm pasti cerpenku lebih keren dari cerpen amatirmu. Ha ha ha", kelekar kami pecah dengan tawa persahabatan.
***
Ku arungi waktu...Ku bagi dua ruang...
Tempatku menimba ilmu dan menyambung hidup...
Tak bosan oh tak bosan...Tak letih oh tak letih...
Ku tetap berdiri walau tanpa sandaran ayah dan bunda...
Alunan syair lagu melankolis salah satu karya yang mengangkat kisah hidup yang dilematis. Dan akulah lakon dari kisah tersebut sekaligus sebagai penciptanya. Sore ini aku dan Panji mulai menyusuri gerbong demi gerbong untuk recehan rupiah yang sangat berarti. Recehan rupiah untuk makan dan untuk sekolah kilat. Nada-nada gitar yang sudah labuh usia menggemakan irama yang masih indah mengiringi lagu melankolis dengan suara khas ku. Tatapan iba penumpang kereta api Brantas kelas ekonomi tertuju pada kami berdua. Entah apa pemikiran dan penilaian mereka tentang aku dan Panji. Toh ini sudah menjadi profesi rutin dan tak perlu risih apalagi malu untuk menanggapinya. Walau laguku tak setenar karya Bung Iwan, Bung Ebiet, atau Bang Piyu Padi, cukup dengan percaya diri duet Benu-Panji mampu mengembangkan senyum beberapa penumpang dan recehan rupiahpun bisa kami dapat.
Beberapa gerbong sudah kami lalui. Dahagapun menghampiri. Ku turunkan kaki bersama Panji menuju stasiun Petarukan karena kereta api sudah berhenti. Seperti hari-hari lalu melepas letih di warung sederhana milik Pak Adi.
"Panji, aku bangga dengan laguku tadi. Laguku bagus kan?", tanyaku.
"Tentu, siapa dulu yang memainkan nada gitarnya", oceh Panji.
"Selalu begitu, paling hobi memuji diri sendiri. Apa sedikit jalan darimu untuk membuatku tersenyum?", tanyaku memelas.
"Eitzzzz...jangan tersinggung Nu. Sedikit jalan untuk membuatmu tersenyum tapi banyak jalan untuk membuat orang lain tersenyum. Dan itu lebih mulia, itu kata Uje", tutur Panji.
"Iya...tersenyum karena laguku yang bagus dan penuh makna. Tak seperti lagu keong racun yang tersohor di mulut masyarakat setelah aksi Jojo-Sinta di youtube. Kita tak perlu media youtube atau yang lain. Cukup dengan panggung gerbong kereta api di perlintasan stasiun Petarukan dengan aksi duet Benu-Panji yang spektakuler sudah mampu menghibur", candaku.
"Ha...ha...ha...", tawa kami berdua pecah didalam warung.
"Bisa saja kamu Nu. Tapi betul juga sih. Ngomong-ngomong bagaimana nasib cerpenmu Nu?", tanya Panji.
"Hahh...aduhhhh!!!", ekspresiku kaget.
***
Fajar mulai menjelang. Namun bulan dan bintang masih betah berhias di langit. Nafas-nafas insan masih dilelapkan oleh mimpi-mimpinya. Tapi aku masih menekuni kata demi kata untuk membentuk suatu cerpen. Kini hampir selesai.
"Akan ku buktikan pada Bu Killa aku bisa membuat cerpen sehingga julukan 'Pembual Janji' tak dilontarkan Bu Killa untukku lagi. Dan ku buktikan juga pada Panji bahwa action oriented mulai tertanam pada diriku sehingga aku bisa dan aku mampu. Enyahlah julukan 'Banci' dari mulut Panji untukku", kataku yakin.
Dalam lelapnya Panji terbangun.
"Kamu tidak tidur Nu?", tanya Panji.
"Hari ini aku tak butuh banyak tidur Pan."
"Masih sibuk nulis ya?"
"Iya, sudah hampir ending. Tapi aku bingung kisah ini lebih cocok dengan happy ending atau sad ending".
"Ya terserah kamulah. Nu antarkan aku ke mushola ya? Lagi pengen tahajud sekalian buang air kecil."
"Huuu...bilang saja yang kamu prioritaskan buang air kecil. Pakai alasan tahajud segala".
"Terserah ocehanmu Nu. Mau ngantar tidak?"
"Maaf Pan, lagi tanggung ini. Kamu sendiri saja ya? Episode Si Manis Jembatan Ancol 3, Pocong 4, dan Suster Ngesot 3 sudah habis kontrak kok".
"Kau pikir aku takut. Kalau tak mau ya sudah. Aku sendiri ke mushola".
Akhir malam mulai menebarkan aroma semakin dingin. Aku mengeratkan jaket lusuhku sebagai penghangat. Aku sendirian dalam rumah bilik yang berdampingan dengan warung Pak Adi. Ku biarkan Panji berlalu menuju mushola sendiri. Hanya ku pandangi dia dari depan rumah. Dinginnya malam diiringi gelagat bising kereta api menuju stasiun.
"Perhatian. Kereta api Senja Utama jurusan Jakarta-Semarang akan tiba di stasiun Petarukan, Pemalang", operator stasiun memberi info.
Puluhan penumpang bergegas menuruni kereta api menuju peron-peron lantas dengan kejelian mencari sanak saudara yang menjemput. Sambutan tukang ojekpun juga menjadi ciri khas di stasiun setibanya kereta api. Kereta apipun dengan sabar menurunkan penumpang dengan hitungan beberapa menit saja. Namun dengan mata nanar dan terbelalak kaget dengan kecepatan penuh sebuah kereta api melintas 100 meter sebelah barat stasiun. Lantas dengan pasti menabrak kereta Senja Utama yang masih terhenti. Brakkkk.... Kontras rangkaian gerbong bergelempang dahsyat, susunan rangka kereta pecah, puing-puing kaca berhamburan. Penumpang dalam kedua kereta sama-sama memekikkan teriakan histeris. Aku tak kuasa melihat festival maut ini.
Tiba-tiba terlintas dalam pikiranku dengan Panji. Apakah dia masih dalam mushola ataukah dia hendak menyebrang perlintasan tepat peristiwa dahsyat tadi. Hatiku cemas, pikiranku beradu antara harapan dan kekhawatiran.
"Panji kamu dimana?", tanyaku dalam hati.
Seketika itu juga ambulan berdatangan, mobil polisipun turut berpartisipasi. Warga sekitar tak mau ketinggalan berjubel dengan mata jeli dan hati penuh cemas. Tubuhku terasa berat dan kaku melihat kejadian tadi. Ku paksakan raga ini untuk mencari Panji ditengah keramaian maut. Ku cari dalam mushola, ku susuri area perlintasan yang hancur, kulanjutkan langkah di peron-peron yang penuh dengan puing-puing kaca, tapi Panji tak juga menampakkan dirinya.
3 jam berlalu, namun Panji belum kembali. Sinar matahari mulai meninggi. Air mata dan tangis berderai dipipiku. Aku bukan satu-satunya yang kebingungan dan sedih. Mereka juga tengah dilanda duka yang dalam.
"Panji dimana kamu? Hari ini adalah hari aku akan menunjukkan hasil cerpenku padamu. Action oriented sudah mulai aku aplikasikan dalam langkahku tuk menemukanmu. Aku bukan banci lagi sobat. Panji dimana kamu?", teriakku memekik.
***
Festival maut ilahi memang tak bisa ditebak. Satu menit orang bersama kita, satu menit pula Engkau menghilangkannya. Kembali ikatan persahabatan layaknya ujung tali-tali. Sebagian adalah harga mati dalam kadar saling berbagi. Sebagian lagi membentuk tatanan dan susunan dalam garis ketetapan Ilahi. Derai air mata, tangis, dan luka memecah di tanah air Indonesia. Entah siapa yang harus disalahkan. Namun secara pasti ini adalah takdir.
2 Oktober tak berseri...
Hasrat pada ilahi...
Pagi kau tunduk kan pergi...
Kini pagi tak bersambut Panji...
Menanti mimpi tuk berjumpa kembali...
Inikah arti Panji...
Untaian kata mengakhiri cerpenku. 'Panji Sok Bijak' berganti dengan 'Arti Panji'. Menandakan karyaku berakhir dengan sad ending.
SINOPSIS CERPEN
"ARTI PANJI"
Oleh Uswatun Hasanah
Ku bagi waktu menjadi 2 ruang yang berbeda. Untuk menuntut ilmu dan mencari rupiah tuk menyambung hidup. Begitu dramatis kisah hidupku yang sudah jelas tertulis rapi dan elok dalam kitab-Nya. Aku bukanlah para pengunjung distro yang selalu modis dengan fashion yang menjadi trendcentre. Bukan pula anak pengusaha dengan limpahan saham, deposito, ataupun investasi. Fashion ala anak jalanan sudah match untuk paras standardku dan beberapa rupiah receh yang tak setiap waktu bisa ku dapat selalu ku syukuri. Panggilan beken "Benu Pengamen" sudah cukup memberi title di hamparan bumi ini. Dan Panji, yang berprofesi sama denganku adalah satu-satunya sahabat dalam gerai berbagi. Menjadikan perbedaan untuk menguatkan arti persahabatan. Berpondasi dalam satu ikatan. Kokoh, tegak, dan kuat dengan tiang persaudaraan. Inilah kisahku yang mengangkat Benu dan Panji sebagai lakonnya. Menghadapi peristiwa dasyat yang tak diduga. Apakah persahabatan ini akan terjalin erat hingga ruh diraga terambil bersama?
***Selamat Membaca***
Tidak ada komentar:
Posting Komentar