LANTUNAN TAKDIR-MU
Terik sang surya sangat menyengat. Hempasan debu-debu jalan tak hentinya menyapu wajahku yang kian kusam. Opera kehidupan membuat tubuhku kurus dan kelopak mataku kian cekung dihiasi garis-garis dipipi yang menyiratkan betapa berat aku harus menjalani hidup. Kayuhan demi kayuhan tak patahkan semangat untuk mengais rezeki Ilahi. Bermodal sepeda tua inilah aku dapat membagi senyuman untuk ketiga adikku. Membelikan mereka pakaian, makanan, mainan, dan kebutuhan sekolah. Tiap hari aku menguras tenaga dengan berkeliling mengitari sudut bumi Yogyakarta bersama sepeda tuaku untuk berjualan aneka sayur-mayur. Permainan Ilahi yang rumit dan berbelit-belit kujalani dengan kesabaran agar esok dan seterusnya bisa kulihat senyum Tari, Ikhwan, dan Ilham.
Hari ini langit pekat bergelayut di bumi Yogyakarta. Pikiranku bergelak tak karuan karena penyakit Ikhwan kambuh. Rencananya aku ingin libur berjualan untuk merawat Ikhwan, tapi apa daya himpitan ekonomi mendorongku untuk tetap bekerja agar bisa membeli obat untuk Ikhwan. Sebelum kupergi kulihat Ikhwan begitu lemah dan lunglai, sementara Tari dan Ilham nampak berat hati untuk berangkat sekolah.
“ Mbakyu tega meninggalkan Ikhwan, kenapa mbakyu tidak libur saja?” ujar Tari dengan mata memerah.
“ Andai mbakyu libur pasti esok dan seterusnya Ikhwan akan begini keadaannya, mbakyu harus cari uang untuk beli obat Ikhwan.”
“ Ya sudah terserah mbakyu. Hari ini kelas 5 dan 6 ada tambahan pelajaran, jadi Tari dan Ilham pulang sore. Tari harap mbakyu bisa pulang lebih awal.”
“ Siap, adikku yang manis. Sekarang kalian berdua berangkat sekolah. Jangan lupa bawa mantel kreseknya, ini musim yang konyol hujan bisa datang kapan saja.”
“ Injeh mbakyu, Tari dan Ilham berangkat sekarang. Assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam. Hati-hati neng dalan.”
Mereka berdua berlalu dengan lambaian tangan dan senyum bercampur guratan sedih yang tertangkap olehku.
Kusandarkan kepalaku di dinding bambu yang cukup rapuh. Betapa berat hidup ini seolah dunia begitu kikir untuk aku, Tari, Ikhwan dan Ilham. Aku hanya memiliki dua tangan dan dua kaki tapi permainan-Mu sungguh membuat hamba tak berdaya. Kuhamburkan pandanganku disudut ruang yang gelap, kutangkap pukul 07.00 WIB saatnya aku harus mengayuh sepeda dan menjalani tugas rutinku.
“ Ikhwan mbakyu berangkat dulu. Hati-hati dirumah ojo kluyuran ya. Doain dagangan mbakyu laris manis.”
“ Injeh mbakyu. Aminn.”
Ikhwan terus sesenggukan dengan nafas yang berat dan sesak. Tak ada sesuatu dalam rumah biliknya yang dapat menjadi penahan rasa sakitnya. Mata Ikhwan dengan jeli mencari sesuatu dalam sudut ruang. Tangan kiri Ikhwan meremas-remas perutnya yang kecil dan krempeng, sedangkan tangan kanannya memegangi dadanya yang makin berisik dan terasa makin sesak.
“ Yah…nasi dan krupuk lagi, katanya jual sayur tapi sayurnya selalu absen, hanya jum’at dan sabtu hadir di meja reot ini. Memangnya sayuran mahal? Kalau begini mana bisa aku sehat. Kata mbakyu jual sayur adalah tugas mulia karena membantu Bu menkes Endang Rahayu Sedyaningsih untuk menyehatkan rakyat Indonesia tapi nyatanya adik sendiri tidak disehatkan. Mbak Ela pelit, medit.” gerutu Ikhwan kesal. Tak kuat menahan rasa laparnya, Ikhwanpun melahap menu sarapan yang disiplin dan familiar di sajikan di rumah biliknya yang cita rasanya jauh dari enak.
Surya Yogyakarta kian meninggi namun langit mendung bergelayut manja. Dibalik debu yang menempel pada jam dinding yang usang menunjukkan pukul 11.00 WIB. Ikhwan masih dalam keadaannya. Tapi Ikhwan keluar rumah dan menghamburkan pandangannya seakan mencari seseorang yang dapat membantu rasa sakitnya. Dia terus berjalan melewati lorong-lorong kumuh di tempat tinggalnya yang dekat dengan TPA. Didapatinya petugas kebersihan dengan seragam kuning yang mendorong gerobak sampah dengan tertatih-tatih menuju TPA.
“ Pak tolong antarkan saya ke Puskesmas!”
“ Memangnya sampean sakit tho le?”
“ Asma saya kambuh Pak, tolong saya Pak!” ujar Ikhwan dengan suara kian melemah.
***
Riuh gemuruh kian mengembang dan meninggi. Hentak gementak langkah makin menjadi-jadi. Langkahku makin berat dan letih, padahal masih banyak sayur yang harus kubeli. Pikiranku berarak tak tentu arah, aku pusing dan bingung. Kini yang terlintas hanya wajah Ikhwan yang merintih dan berbaring tak berdaya di rumah sakit, serta raut duka diwajah lugu Tari dan Ilham.
“ Laa haula wa laa kuwata illa billah, Engkau Maha Membolak-balikkan nasib berilah hamba kekuatan menjalani hidup ini dari semua cobaan dan permainan-Mu yaa Rabb”, rintihku dalam hati.
Kulanjutkan langkah yang sempat terhenti untuk menyusuri pasar. Setelah sayur-mayur siap dalam keranjang, segera kukayuh sepeda tuaku untuk mengelilingi kompleks perumahan Yogyakarta yang mewah dan asri.
Lima jam berlalu dengan cepat. Digenggamanku ada 250ribu hasil berjualan sayur. Kuayunkan langkah kakiku menuju ruang administrasi rumah sakit. Dalam keadaan payah kulanjutkan langkahku menuju kamar kelas III mawar dengan 4 bungkus nasi ditanganku. Tak kuduga ternyata Pak Said berada dalam ruang tersebut diiringi gelak canda tawa Tari, Ikhwan, dan Ilham. Pak Said adalah sosok yang kharismatik, tawadu’, dan dermawan walaupun beliau hanya seorang petugas kebersihan. Kulepaskan segala penatku hari ini dengan mereka, larut dalam suasana yang menyenangkan diantara guratan hidup yang cukup menyiksaku.
Ruang mulai sepi, detakan jarum jam mengiringi lelapnya tiga buah hatiku. Mataku dan mata Pak Said menatap mereka bertiga dalam nafas lelapnya.
“ La keadaan Ikhwan sudah mulai membaik, apakah biaya rumah sakit Ikhwan sudah beres?”
“ Mungkin dua hari lagi Ela bisa melunasinya Pak.”
“ Jika menunggu dua hari lagi berarti biaya makin bertambah tho La.”
“ Injeh lah Pak tentu akan bertambah, seandainya saya jualan emas atau berlian pasti hari ini Ikhwan sudah pulang dari rumah sakit.”
“ Ela..Ela..dalam kondisi seperti ini masih saja nglawak.”
“ Tapi Ela bukan keturunan Gogon, Kirun, atau Bagio lho Pak. Memang sudah nasib Ela Pak, jadi harus ikhtiar dan tawakal.”
“ Betul La, pancen becik pinuturmu.”
“ Injeh Pak Said, tapi Ela………”
“ Wis duk pokok e sing sabar lan nerimo. Ingat La, wong sing tekun golek teken mesti bakalan tekan, ngerti tho maksud e? ”
“ Injeh Pak, Ela ngerti.”
“ Ini La, tolong diterima untuk biaya Ikhwan.”
“ Mboten usah Pak Said, matur suwun.”
“ Sudah diterima saja, karena ini gaji Ikhwan sebab dia pernah bantu bapak nyapu alun-alun yang kotor setelah acara Agustusan kemarin.”
“ Ya sudah Pak, karena uang ini haknya Ikhwan saya terima untuk biaya rumah sakit. Matur suwun sanget Pak Said.”
“ Iya, sudah jam tiga pagi, saatnya bapak harus dinas kebersihan.”
“ Sepagi ini Pak said?”
“ Iya La, pagi-pagi itu hawane seger La.”
“ Ini Pak, jaket Ela pakailah!”
“ Nggak usah, kamu tahu nggak La kalau udara pagi itu merupakan seperempat dari udara surga. Jadi bapak ingin menikmatinya secara maksimal dan optimal.”
“ Hallah Pak bahasa jenengan iku lho. Oke, selamat menjalankan tugas mulia dalam segarnya udara surga ya Pak, dan hati-hati lho.”
“ Iya, assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam”.
Mengobrol dengan Pak Said sungguh menyenangkan, tutur nasihatnya sangat merindukanku pada sosok almarhum bapak.
“ Bapak…Ela sangat rindu tutur bijakmu, Ibu…Ela sangat rindu alunan kasihmu. Andai turnamen maut Ilahi itu tidak terjadi pasti aku, Tari, Ikhwan, dan Ilham takkan serumit ini menjalani hidup. Tragedi gempa di hamparan Yogyakarta menjadi kenangan duka yang dalam.” rintihku dalam hati.
Kubayangkan memori duka tiga tahun yang lalu. Dibalik reruntuhan bangunan rumah kulihat dengan nanar betapa Ibu sangat membutuhkan pertolongan. Tapi apa dayaku kepulan api yang semakin merambati dapur menghalangi langkahku tuk bangkit dari ruang keluarga yang berdampingan dengan dapur, dimana pagi itu Ibu sedang memasak. Bagai buah simalakama, aku bingung dan dilema siapa yang harus kuselamatkan lebih utama, apakah aku harus tetap menjaga Tari, Ikhwan, dan Ilham yang berada dalam dekapanku dengan tangisan yang menderu-deru ataukah menerjang api diantara reruntuhan dan goyangan bumi yang masih melantun dahsyat untuk menyelamatkan Ibu. Tangan, kaki, dan ragaku tak mampu menjangkau keadaan ini.
Pasca dua hari setelah tragedi maut itu, hilang sudah semua harta benda yang keluargaku miliki. Hal yang lebih mengiris hati saat Tim SAR menginformasikan bahwa Ibu meninggal dunia dan Bapak turut menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Gempa itu menyisakan aku, Tari, Ikhwan, Ilham dan nafas-nafas insan duka yang lain. Sore itu kupandangi bangkai rumah mewahku yang sudah luluh lantah. Kutemukan sepeda untho milik Bapak bersandar di reruntuhan bangunan. Kuambil dan kukayuh untuk sisa nasibku dan sebagai cenderamata dalam tragedi maut ini, yang hingga kini masih kugunakan untuk menyambung hidup.
“ Tiga buah hatiku, tiga senyum bahagiaku, dipenghujung malam ini tidurlah dengan lelap mungkin besok akan lebih baik. Uang dari Pak Said ini dapat membiayai Ikhwan di rumah sakit.” gumamku dalam kantuk yang sangat.
***
Pagi ini masih mendung, langit Yogyakartapun nampak hitam kelam. Namun langkahku begitu ringan menapaki bumi ini untuk mencari rezeki-Nya.
“ Siang nanti Ikhwan akan pulang dari rumah sakit dengan keadaan sehat. Yaa Rabb…segala puji untuk-Mu, tiga senyum bahagiaku akan menerpakan keceriaan dalam hidupku dan kerinduan akan kebersamaan dalam rumah yang hampir dua minggu kami tinggal.” bisikku dalam hati.
“ Kringgg...kringggg...” ringtone jadul handponeku berbunyi.
“ Mbakyu…mbakyu Ikhwan, itu darah, darah dari mulut Ikhwan. Takut, takut, Tari takut. Mbakyu cepat kesini. Takut, takut, huhuhu…..” tangis Tari menderu.
“ Iya mbakyu, Ilham juga takut, takut, darah mas Ikhwan keluar, takut. Huhuhu….” tangis Ilham tak kalah kerasnya.
“ Ada apa dengan Ikhwan? Kenapa kembaranmu Ilham? Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis? Kenapa? Kenapa?” tanyaku bertubi-tubi.
“ Huhuhu….huhuhu” tangis mereka berdua memecah keras.
Tutt…tutt…tutt…
“ Hallo, hallo Tari, Ilham…innalilahi wa inna ilaihi roji’un, teleponnya terputus.”
“ Apa yang terjadi dengan Ikhwan? Yaa Rabb Engkau Maha Pembawa kabar gembira, jauhkan hamba dari kabar buruk Yaa Rabb.”
Kukayuh sepeda tuaku dengan kekuatan penuh dan kugenggam handponeku erat-erat berharap Tari akan menelpon kembali.
***
“ Yaa Rabb, Engkaulah dzat yang Maha Mengampuni dosa-dosa. Tunjukilah hamba pada sebaik-baik akhlak, karena hanya Engkaulah pemberi petunjuk kepada sebaik-baik akhlak. Jauhkanlah hamba dari akhlak yang buruk, karena hanya Engkaulah yang menjauhkan keburukan-keburukan akhlak dariku. Segala kebaikan berada ditangan-Mu dan kejahatan bukan dari-Mu. Yaa Rabb, luas kursi-Mu meliputi langit dan bumi, dan Engkau tidak merasa berat memelihara keduanya. Maka dari itu peliharalah hamba untuk istiqomah berjalan pada rahmat-Mu. Yaa Rabb, Engkau penguasa dan tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau tuhanku dan aku Hamba-Mu. Hamba hadapkan wajahku kepada dzat yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan condong dan pasrah kuterima lantunan takdir-Mu untukku. Derita hidup, kemiskinan, kesukaran adalah hiasan iman yang dibentangkan pada hamba-Mu. Dan semua titipan-Mu untukku akan kembali pada-Mu. Ikhlaskan hamba untuk melepas apa yang telah kumiliki”, parau suaraku penuh duka.
Dipenghujung malam bergelayut bintang dan bulan yang mulai melampaui batas, menampakkan butiran bening di sudut mata yang menetes diatas tempat sujudku. Kuikhlaskan hati atas semua yang terjadi. Aku bernafas dengan Iradah-Mu dan menjadi detak syair nurani bumi-Mu. Kulantunkan ayat-ayatMu hingga jiwa pilu ini terang benderang oleh cahaya-cahaya ilahiyat dibawah sinar fajar yang merekah menerpakan karunia kasih abadi. Kukan lanjutkan hidup untuk Tari dan Ilham dengan segala lantunan takdir-Mu. Memang benar bahwa jejak, kenangan, kehilangan dan perpisahan adalah hakikat hidup. Ikhwan selamat jalan, tersenyumlah dalam penantian ukhrawi yang kekal. “ Yaa Rabb lantunan takdir-Mu menguatkanku dalam menggapai maqam cinta-Mu”, lirihku dalam perih dan senyum.
Sinopsis Cerpen “Lantunan Takdir-Mu”
Oleh: Uswatun Hasanah
Kehilangan, perpisahan, kesukaran, dan kemiskinan adalah lantunan takdir yang dibentangkan oleh Alloh kepada setiap hamba-Nya. Demikian juga dengan lika-liku hidup yang dijalani oleh Ela. Seorang gadis yang hidup dalam lingkar kemiskinan bersama ketiga adiknya. Alunan kasih sayang dari orang tua hanya menjadi memori kerinduan dalam benak mereka. Dalam himpitan ekonomi Ela harus bertanggung jawab demi keberlangsungan hidupnya, Tari, Ikhwan, dan Ilham.
Dapatkah Ela menghadapi lantunan takdir yang rumit dan berbelit-belit..??
Selamat membaca..!!!
Tidak ada komentar:
Posting Komentar