Di siang hari yang sangat terik Gendis (18 tahun) menyusuri jalan dengan mendendangkan lagu-lagu untuk recehan rupiah yang menjadi pemasukan bagi kehidupannya sebagai anak jalanan.
Gendis (1) : “ Ribuan kilo jalan ku tempuh….
Tapi hanya peluh….
Yang selalu ku unduh….
Begini nasib jadi anak jalanan….
Ibu kawin lagi, bapak jadi napi….
Si adik jadi preman teri….”(rintihan dan nyanyian Gendis)
Gendis (2) : “ Aduh lapar….(memegangi perutnya dan melihat kardus-kardus diatas
sampah dan Gendis berniat mengambilnya)
Gendis (3) : “ Wah makanan, Rapat DPR ( membaca tulisan di kardus makanan itu)
astaqfirulloh aladzim…tapi ini kan nasi sisa udah dibuang pula, jadi nggak perlu takut ini nasi terdeteksi atau terkontaminasi dengan bahan-bahan korupsi, hee heee lumayan buat isi perut ku yang kosong.”
Gendis (4) : “ (setelah makan makanan itu) aduh perutku kok sakit melilit begini, aduhhh.”
Gendis (5) : “ lebih baik aku muter radio ini aja deh…aduh tapi kok masih sakit!!”
Gendis (6) : “ (mendengar musik) nggak di Koran, televise, radio, semuanya tentang
Gayus. Gayus…Gayus buat perutku tambah murus ae. Aduh Bu Endang jenengan iku nopo mboten ngertos tow cah ayu seng denok deblong sing terdampar di sudut Indonesia bagian Ngawi tepat e di Dawu ini lagi laparrrrrrrr.”
Gendis (7) : “ Andai Ibu nggak kawin lagi pasti aku nggak akan begini, andai bapak
nggak nyuri ayam pasti nggak dipenjara. Bapak, Ibu aku kangen kalian berdua. Aku iri dengan Gayus yang korupsi berjuta-juta uang rakyat tapi enak dipenjara. Bisa refresing ke Bali, Macau. Sedangkan Bapakku hanya izin ke Dawu nengok aku aja nggak dibolehin. Huhhhh…..
Andai ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke Bali
Dan semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
Lucunya di negeri ini
Hukumnya bisa dibeli
Kita orang yang lemah
Pasrah akan keadaan….(menyanyi)”
Gendis (8) : “ (bunyi Hp) ada apa Nu…aku nggak mau ya jadi menejer preman buat kamu itu perbuatan yang merugikan orang lain, apalagi sampai kamu ngajak aku untuk tinggal di rumah ibu dan bapak baru…diiihhh ogahhhh ya aku nggak mau bangett, bapak barumu itu seorang koruptor, tahu nggak koruptor itu orang yang makan uangnya rakyat, uang pembangunan dll. Aku nggak mau TITIK.” (mendengar suara bukan Benu adiknya)
Gendis (9) : “ lho ini kan Hp dan nomor adik saya kan mbak? Apa??? Rumah sakit??? Kamar mayat??? (Gendis syok dan pingsan)
Sungguh malang nasib Gendis, ternyata Benu adiknya dan Ibu kandungnya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kini hidup Gendis benar-benar berat kehilangan orang yang sangat dicintainya mesti tak tinggal serumah dan bapaknya masih dipenjara selama 6 tahun.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar