Selasa, 06 Desember 2011

bacaan sejuk di hati


Lantunan suara membacakan ayat-ayat suci Al-Qur'an menggema di setiap sudut kota. Sebuah suasana yang tidak pernah diperoleh selain ketika bulan Ramadhan tiba. Dengan suka cita seluruh umat muslim di dunia menyambut kedatangan bulan Ramadhan, bulan penuh keberkahan dan keistimewaan.

Biasanya membaca ayat-ayat suci Al-Qura'an di bulan Ramadhan dilakukan secara bersama-sama oleh dua orang atau lebih, gunanya untuk dapat saling mengkoreksi kebenaran dari bacaan masing-masing.
Nah, kegiatan seperti itu disebut dengan tadarus Al-Qur'an. Tadarus Al-Qur'an ini sangat sering dilakukan dan ditemui setiap bulan Ramadhan tiba. Maka dari itu, setiap bulan Ramadhan banyak kita dengar senandung ayat-ayat AlQur'an bergema di setiap mesjid-mesjid.

Fitri Yuliana, siswi kelas dua SMK Swasta Perguruan Maju Binjai ini mengaku nggak pernah absen tadarus selama bulan puasa di mesjid. Yuli, biasa ia disapa mengatakan, membaca ayat-ayat suci Al-Qur'an di bulan Ramadhan selain dianjurkan kepada seluruh umat muslim juga pahala yang diterima akan berlipat ganda.
"Sepengetahuan aku, di bulan Ramadhan setiap huruf yang kita baca dari ayat-ayat suci Al-Quran akan dihitung pahalanya, beda dengan di bulan-bulan lain," tutur Yuli.
Menurut Yuli, tadarus Al-Qur'an bukan hanya sekedar membaca, tapi melainkan dapat memahami isi kandungan dari ayat-ayat suci Al-Qur'an tersebut dan dapat diamalkan dalam kehidupan sehari-hari.
"Kalo aku, selain tadarus di mesjid aku juga tadarus di rumah. Biasanya setelah aku selesai di rumah, aku selalu membaca-baca arti dari ayat-ayat Al-Qur'an yang telah aku baca sebelumnya. Setidaknya aku bisa sedikit memahami kandungan dari ayat-ayat yang udah aku baca tadi," ungkap Yuli.
Yuli menambahkan dengan tadarus Al-Qur'an banyak manfaat yang diperoleh selain mendapat pahala, juga menambah ilmu dan memperbaiki bacaan Al-Qur'an. Karena menurut Yuli, membaca Al-Qur'an tidaklah sama dengan membaca buku-buku yang lainnya.
"Membaca Al-Qur'an tidaklah mudah, tapi tidak juga sulit. Tapi yang jelas beda dengan membaca buku-buku yang lain. Kalo kita salah menyebutkan hurufnya saja, maka artinya sudah berbeda. Maka itulah gunanya tadarus, jadi bisa saling mengkoreksi satu sama lain. Untuk itu dalam kelompok tadarus setidaknya harus ada satu orang yang benar-benar mengerti tentang bacaan Al-Qur'an sebagai pembimbing," ungkap Yuli. (zulfan, Waspada Online)

Berita tentang keistimewaan bulan Ramadhan dengan menghidupkan tadarus al-Qur'an janganlah turut sirna dengan berlalunya Ramadhan. Tadarus harus tetap dihidupkan sepanjang masa, baik itu di masjid-masjid, di rumah maupun dalam keadaan safar.
Al-Qur'an adalah bacaan mulia, yang memberikan kemulyaan sepanjang orang mau membacanya, memahami isi kandungannya, dan mengamalkannya. Mari kita hidupkan tadarus al-Qur'an. (Abu Hanief/PAI 06)
Diposkan oleh bem stai al-fatah cileungsi di 14:51 0 komentar Description: http://img1.blogblog.com/img/icon18_email.gif

MAKNA HIDUP
Hidup memiliki makna yang sangat luas. Keluasan maknanya, menyebabkan banyak di antara manusia mencoba memaknai arti hidup berdasarkan proses perjalanan hidup yang dialaminya. Ada beragam makna hidup, diantaranya ada yang mengatakan Hidup adalah perjuangan; Hidup adalah perbuatan; Hidup adalah ibadah; Hidup adalah anugerah; Hidup adalah saling melengkapi; Hidup adalah inspirasi; Hidup adalah berkah; Hidup adalah saling memberi; Hidup adalah pilihan; Hidup adalah sebuah perlombaan; Hidup adalah panggung sandiwara, dan sebagainya.
Beragam pendapat manusia dalam memaknai arti hidup, muncul karena adanya pemicu yang bersifat fitrah dan manusiawi. Sebagaimana di antara salah satu firman Allah:
زُيِّنَ لِلنَّاسِ حُبُّ الشَّهَوَاتِ مِنَ النِّسَاءِ وَالْبَنِينَ وَالْقَنَاطِيرِ الْمُقَنْطَرَةِ مِنَ الذَّهَبِ وَالْفِضَّةِ وَالْخَيْلِ الْمُسَوَّمَةِ وَالْأَنْعَامِ وَالْحَرْثِ ذَلِكَ مَتَاعُ الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَاللَّهُ عِنْدَهُ حُسْنُ الْمَآبِ (14)
“Dijadikan indah pada (pandangan) manusia kecintaan kepada apa-apa yang diingini, yaitu: wanita-wanita, anak-anak, harta yang banyak dari jenis emas, perak, kuda pilihan, binatang-binatang ternak dan sawah ladang. Itulah kesenangan hidup di dunia dan di sisi Allah-lah tempat kembali yang baik (surga).” (Q.S. Ali ‘Imran, 3: 14)
Di dalam kamus al-Qur’an kata الحَيُّ )hidup( ialah perasaan, naluri, gerak, dan tumbuh. الحَيُّ adalah juga salah satu dari asma’ul husna, yang artinya: Allah Yang Maha Hidup maknanya sifat yang sesuai dengan Dzat-Nya, serupa dengan sifat Maha Mengetahui, Maha Menghendaki, dan Maha Kuasa yang ada pada Allah. (QS. 2: 255)
Pengertian hidup menurut bahasa Arab adalah kebalikan dari mati (naqiidlul maut). Tanda-tanda kehidupan nampak dengan adanya kesadaran, kehendak, penginderaan, gerak, pernapasan, pertumbuhan, dan kebutuhan akan makanan. Sedang pengertian mati dalam bahasa Arab adalah kebali­kan dari hidup (naqiidlul hayah). Dalam kitab Lisanul Arab dikatakan : "Mati adalah kebalikan dari hidup." Jadi selama arti mati adalah kebalikan dari hidup, maka tanda-tanda kematian berarti merupakan kebalikan dari tanda-tanda kehidupan, yang nampak dengan hilangnya kesadaran dan kehendak, tiadanya penginderaan, gerak, dan pernapasan, serta berhentinya pertumbuhan dan kebutuhan akan makanan.

URGENSI HIDUP
Pada kolom Hikmah (Republika, Senin, 08 Sep 2003) yang berjudul Terampil Memainkan Hidup, menyatakan bahwa hidup adalah keterampilan. Ia akan memiliki makna apabila kita terampil untuk memainkannya. Seseorang akan bisa menikmati perjalanan, apabila ia terampil mengendarai kendarannya. Begitu pula, seseorang akan berbicara dengan baik apabila ia terampil memilih kata dan nada bicara yang tepat.
Untuk terampil kita membutuhkan dua hal, yaitu ilmu dan latihan. Siapa saja yang tidak mencintai dua hal ini, maka ia celaka dan mencelakakan orang lain. Masalah terbesar yang kita alami sekarang adalah tidak menguasai keterampilan untuk hidup.

BERANGKAT DARI INSPIRASI
Iklan rokok Star Mild di media televisi yang menampilkan short action bertajuk Bikin Hidup Lebih Hidup, ternyata membuat para pemirsa dari berbagai kalangan terinspirasi untuk mengadopsinya dan menjadikannya sebagai bahasa gaul/slogan dalam berbagai ivent. Yang fanatik dengan kepartaiannya, PKS mengadopsinya sebagai slogan “PKS Bikin Hidup Lebih Hidup”; Yang masuk angin lebih sregh jika dikerokin, katanya: “Kerokan bikin lebih hidup lebih hidup”; yang sedang jatuh cinta, katanya: “Cinta bikin hidup lebih hidup”; yang suka facebookan, katanya: “facebook bikin hidup lebih hidup”; yang sudah pengen nikah dan yang baru nikah, katanya: “nikah bikin hidup lebih hidup”; begitu juga yang suka tenteng laptop, yang suka berolahraga, yang hobi baca buku, hobi jalan-jalan, dll.
Dalam kajian-kajian Islami, slogan ini juga dipakai sebagai kalimat pengiring, misalnya: Al-Qur’an bikin hidup lebih hidup, Islam bikin hidup lebih hidup, Dzikir bikin hidup lebih hidup, Tadarus al-Qur’an bikin hidup lebih hidup, berjama’ah bikin hidup lebih hidup, dan ikhlas bikin hidup lebih hidup.
Seiring dengan munculnya slogan Bikin Hidup Lebih Hidup, muncul pula slogan lain, yaitu Bikin Hidup Lebih Redup. Slogan ini juga mendapatkan tempat di hati para aktifis anti narkoba tentang bahayanya asap rokok bagi kesehatan. Begitu Juga para pakar pendidikan dan neorolog yang menyatakan tentang bahayanya TV.

POHON YANG HIDUP LEBIH HIDUP
“Dan Dialah yang menurunkan air hujan dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan, maka KaDescription: https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEh-sMOJvQAecwTgCpoJtSwLw8MH4dn-z2VzKPHwNoR0YdEeeWuBZg2N6JWc9OiJlbLJM8vXzq0LVg-oTwoFvVhUulhJhTK3Ov5pV0U52mZUL6j0AYTBQIVEnzn9SKxduk-zNwFSeBkEizE/s320/irrigation-photosynthesis.jpgmi keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau, Kami keluarkan dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang kurma mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa. Perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah, dan (perhatikan pulalah) kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang beriman.” (Q.S. Al-An’aam, 6: 99)

ISLAM BIKIN HIDUP LEBIH HIDUP
Allah Ta’ala berfirman:
قُلْ يَاعِبَادِيَ الَّذِينَ أَسْرَفُوا عَلَى أَنْفُسِهِمْ لَا تَقْنَطُوا مِنْ رَحْمَةِ اللَّهِ إِنَّ اللَّهَ يَغْفِرُ الذُّنُوبَ جَمِيعًا إِنَّهُ هُوَ الْغَفُورُ الرَّحِيمُ
“Katakanlah: "Hai hamba-hamba-Ku yang melampaui batas terhadap diri mereka sendiri, janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya Allah mengampuni dosa-dosa semuanya. Sesungguhnya Dialah Yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (Q.S. al-Zumar, 39: 53)
Ayat di atas mengajak kepada kita agar senantiasa selalu optimis dalam menjalani hidup dan kehidupan di dunia ini. Optimis untuk senantiasa menatap ke depan yang lebih baik meskipun tantangan yang akan kita hadapi cukup berat.
Maka untuk mewarnai hidup kita ini menjadi lebih hidup, marilah kita tingkatkan kualitas hidup kita dengan senantiasa berlomba-lomba untuk mengerjakan amal kebaikan dimanapun kita berada.
Dua hal yang bisa membuat hidup lebih hidup, yaitu mengenal amal dan memotivasi diri untuk mengamalkannya.

A. Mengenal Amal
Mengenal Amal, ada tiga perkara, yaitu:
1. Orang yang Berperang di Jalan Allah
Firman Allah:
وَلَا تَقُولُوا لِمَنْ يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَكِنْ لَا تَشْعُرُونَ(154)
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya.” (Q.S. al-Baqarah, 2: 154)
2. Memenuhi Seruan Allah dan Rasul-Nya
Firman Allah:
يَاأَيُّهَا الَّذِينَ ءَامَنُوا اسْتَجِيبُوا لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا يُحْيِيكُمْ وَاعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ الْمَرْءِ وَقَلْبِهِ وَأَنَّهُ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ (24)
“Hai orang-orang yang beriman, penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu yang memberi kehidupan kepada kamu, dan ketahuilah bahwa sesungguhnya Allah membatasi antara manusia dan hatinya dan sesungguhnya kepada-Nyalah kamu akan dikumpulkan.” (Q.S. Al-Anfal, 8: 24)
3. Beramal Shalih
Firman Allah:
الَّذِينَ ءَامَنُوا وَعَمِلُوا الصَّالِحَاتِ طُوبَى لَهُمْ وَحُسْنُ مَآبٍ (29)
“Orang-orang yang beriman dan beramal saleh, bagi mereka kebahagiaan dan tempat kembali yang baik.” (Q.S. al-Ra’d, 13: 29)

B. Memotivasi Diri untuk Mengamalkannya
Motivasi menjadi penting sekali sebagai modal utama untuk beramal shalih. Beramal shalih menjadi lebih hidup kalau motivasi itu kita dasari semata-mata karena Allah, lillahi ta’ala. Sebagaimana firman Allah:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ ... (5)
“Dan Tidaklah mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan keta`atan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama dengan lurus,...” (Q.S. al-Bayyinah, 98: 5)
Dan hadits dari Anas bin Malik, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi Wasallam bersabda:
ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ أَنْ يَكُونَ اللَّهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَعُودَ فِي الْكُفْرِ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ (متفق عليه)
“Tiga hal, siapa yang ada ketiga-tiganya pada orang itu, niscaya dia akan merasakan manisnya iman : Siapa yang mencintai Allah dan Rasulnya, lebih dari yang selainnya, dan siapa yang mencintai manusia, dicintainya semata-mata karena Allah dan tidak suka (benci) kembali menjadi kafir sesudah diselamatkan Allah dari kekafiran, sebagaimana bencinya akan dilemparkan ke dalam api neraka.” (Mutafaqun ‘alaih)

Setelah kita mengetahui landasan motivasi sebagaimana dalil naqli di atas, langkah berikutnya adalah memanaj/mengolah motivasi. Ada empat langkah untuk memanaj motivasi agar menjadi hidup lebih hidup, yaitu:
1. Melakukan refleksi terhadap apa yang akan kita capai lalu menuliskannya di selembar kertas.
Untuk bisa melakukan motivasi terhadap diri kita, kita harus tahu apa tujuan yang ingin kita capai. Lalu kita harus mengembangkan perencanaan jangka pendek maupun jangka panjang.
Setelah kita menuliskan tujuan kita bersama dengan rencana yang kita buat untuk mencapainya, tempelkan kertas tersebut di tempat yang akan sering kita lihat setiap saat.
2. Berhentilah menunda
Menunda-nunda adalah hal yang bisa membunuh impian kita. Juga mampu membunuh motivasi dalam diri kita sendiri. Tetapkan batas waktu untuk mencapai satu tujuan, dan berpeganglah dengan batas waktu yang kita tentukan sendiri. Dengan memiliki perasaan dikejar batas waktu, kita juga akan lebih fokus dan berusaha untuk memenuhi tujuan tersebut. Pikirkanlah batas waktu yang tepat dan tetap membuat anda nyaman dalam menjalaninya. Terburu-buru juga bukanlah hal yang baik.
3. Menghadiahi diri sendiri
Jadi cobalah untuk memberikan hadiah atau menghargai diri kita sendiri ketika kita menyelesaikan satu bagian dalam perencanaan kita untuk mencapai tujuan akhir kita. Hal ini membuat kita akan memiliki harapan untuk bisa menyelesaikan bagian-bagian berikutnya untuk memperoleh hadiah yang lebih baik.
4. Bersenang-senanglah
Cobalah untuk tidak terlalu berat memikirkan masalah dan pekerjaan. Belajarlah untuk menikmati apa yang kita lakukan setiap hari, sehingga kita bisa tetap termotivasi dan merasa antusias.
Motivasi diri sendiri memiliki keuntungan tersendiri dan juga memacu diri kita untuk bisa lebih berkembang, lebih baik, dan mengarah pada kesuksesan. Dengan memotivasi diri sendiri, berarti kita juga bisa menciptakan jalan-jalan baru untuk melangkah mencapai tujuan kita. (Abu Hanief/PAI-06)

monolog...from jelata

NASKAH MONOLOG     “G E N D I S”                                                  

Di siang hari yang sangat terik Gendis (18 tahun) menyusuri jalan dengan mendendangkan lagu-lagu untuk recehan rupiah yang menjadi pemasukan bagi kehidupannya sebagai anak jalanan.
Gendis (1) : “ Ribuan kilo jalan ku tempuh….
                       Tapi hanya peluh….
                       Yang selalu ku unduh….
                                    Begini nasib jadi anak jalanan….
                                    Ibu kawin lagi, bapak jadi napi….
                                    Si adik jadi preman teri….”(rintihan dan nyanyian Gendis)
Gendis (2) : “ Aduh lapar….(memegangi perutnya dan melihat kardus-kardus diatas   
            sampah dan Gendis berniat mengambilnya)
Gendis (3) : “ Wah makanan, Rapat DPR ( membaca tulisan di kardus makanan itu)
astaqfirulloh aladzim…tapi ini kan nasi sisa udah dibuang pula, jadi nggak perlu takut ini nasi terdeteksi atau terkontaminasi dengan bahan-bahan korupsi, hee heee lumayan buat isi perut ku yang kosong.”
Gendis (4) : “ (setelah makan makanan itu) aduh perutku kok sakit melilit begini, aduhhh.”
Gendis (5) : “ lebih baik aku muter radio ini aja deh…aduh tapi kok masih sakit!!”
Gendis (6) : “ (mendengar musik) nggak di Koran, televise, radio, semuanya tentang
Gayus. Gayus…Gayus buat perutku tambah murus ae. Aduh Bu Endang jenengan iku nopo mboten ngertos tow cah ayu seng denok deblong sing terdampar di sudut Indonesia bagian Ngawi tepat e di Dawu ini lagi laparrrrrrrr.”
Gendis (7) : “ Andai Ibu nggak kawin lagi pasti aku nggak akan begini, andai bapak
nggak nyuri ayam pasti nggak dipenjara. Bapak, Ibu aku kangen kalian   berdua. Aku iri dengan Gayus yang korupsi berjuta-juta uang rakyat tapi enak dipenjara. Bisa refresing ke Bali, Macau. Sedangkan Bapakku hanya izin ke Dawu nengok aku aja nggak dibolehin. Huhhhh…..
Andai ku Gayus Tambunan
Yang bisa pergi ke Bali
Dan semua keinginannya
Pasti bisa terpenuhi
                                    Lucunya di negeri ini
                                    Hukumnya bisa dibeli
                                    Kita orang yang lemah
                                    Pasrah akan keadaan….(menyanyi)”
Gendis (8) : “ (bunyi Hp) ada apa Nu…aku nggak mau ya jadi menejer preman buat kamu itu perbuatan yang merugikan orang lain, apalagi sampai kamu ngajak aku untuk tinggal di rumah ibu dan bapak baru…diiihhh ogahhhh ya aku nggak mau bangett, bapak barumu itu seorang koruptor, tahu nggak koruptor itu orang yang makan uangnya rakyat, uang pembangunan dll. Aku nggak mau TITIK.” (mendengar suara bukan Benu adiknya)
Gendis (9) : “ lho ini kan Hp dan nomor adik saya kan mbak? Apa??? Rumah sakit??? Kamar mayat??? (Gendis syok dan pingsan)

Sungguh malang nasib Gendis, ternyata Benu adiknya dan Ibu kandungnya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia. Kini hidup Gendis benar-benar berat kehilangan orang yang sangat dicintainya mesti tak tinggal serumah dan bapaknya masih dipenjara selama 6 tahun.





                                                                                                                             

cerpen


LANTUNAN TAKDIR-MU

            Terik sang surya sangat menyengat. Hempasan debu-debu jalan tak hentinya menyapu wajahku yang kian kusam. Opera kehidupan membuat tubuhku kurus dan kelopak mataku kian cekung dihiasi garis-garis dipipi yang menyiratkan betapa berat aku harus menjalani hidup. Kayuhan demi kayuhan tak patahkan semangat untuk mengais rezeki Ilahi. Bermodal sepeda tua inilah aku dapat membagi senyuman untuk ketiga adikku. Membelikan mereka pakaian, makanan, mainan, dan kebutuhan sekolah. Tiap hari aku menguras tenaga dengan berkeliling mengitari sudut bumi Yogyakarta bersama sepeda tuaku untuk berjualan aneka sayur-mayur. Permainan Ilahi yang rumit dan berbelit-belit kujalani dengan kesabaran agar esok dan seterusnya bisa kulihat senyum Tari, Ikhwan, dan Ilham.

            Hari ini langit pekat bergelayut di bumi Yogyakarta. Pikiranku bergelak tak karuan karena penyakit Ikhwan kambuh. Rencananya aku ingin libur berjualan untuk merawat Ikhwan, tapi apa daya himpitan ekonomi mendorongku untuk tetap bekerja agar bisa membeli obat untuk Ikhwan. Sebelum kupergi kulihat Ikhwan begitu lemah dan lunglai, sementara Tari dan Ilham nampak berat hati untuk berangkat sekolah.
Mbakyu tega meninggalkan Ikhwan, kenapa mbakyu tidak libur saja?” ujar Tari dengan mata memerah.
“ Andai mbakyu libur pasti esok dan seterusnya Ikhwan akan begini keadaannya, mbakyu harus cari uang untuk beli obat Ikhwan.”
“ Ya sudah terserah mbakyu. Hari ini kelas 5 dan 6 ada tambahan pelajaran, jadi Tari dan Ilham pulang sore. Tari harap mbakyu bisa pulang lebih awal.”
“ Siap, adikku yang manis. Sekarang kalian berdua berangkat sekolah. Jangan lupa bawa mantel kreseknya, ini musim yang konyol hujan bisa datang kapan saja.”
Injeh mbakyu, Tari dan Ilham berangkat sekarang. Assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam. Hati-hati neng dalan.”
Mereka berdua berlalu dengan lambaian tangan dan senyum bercampur guratan sedih yang tertangkap olehku.

            Kusandarkan kepalaku di dinding bambu yang cukup rapuh. Betapa berat hidup ini seolah dunia begitu kikir untuk aku, Tari, Ikhwan dan Ilham. Aku hanya memiliki dua tangan dan dua kaki tapi permainan-Mu sungguh membuat hamba tak berdaya. Kuhamburkan pandanganku disudut ruang yang gelap, kutangkap pukul 07.00 WIB saatnya aku harus mengayuh sepeda dan menjalani tugas rutinku.
“ Ikhwan mbakyu berangkat dulu. Hati-hati dirumah ojo kluyuran ya. Doain dagangan mbakyu laris manis.”
“ Injeh mbakyu. Aminn.”

            Ikhwan terus sesenggukan dengan nafas yang berat dan sesak. Tak ada sesuatu dalam rumah biliknya yang dapat menjadi penahan rasa sakitnya. Mata Ikhwan dengan jeli mencari sesuatu dalam sudut ruang. Tangan kiri Ikhwan meremas-remas perutnya yang kecil dan krempeng, sedangkan tangan kanannya memegangi dadanya yang makin berisik dan terasa makin sesak.
“ Yah…nasi dan krupuk lagi, katanya jual sayur tapi sayurnya selalu absen, hanya jum’at dan sabtu hadir di meja reot ini. Memangnya sayuran mahal? Kalau begini mana bisa aku sehat. Kata mbakyu jual sayur adalah tugas mulia karena membantu Bu menkes Endang Rahayu Sedyaningsih untuk menyehatkan rakyat Indonesia tapi nyatanya adik sendiri tidak disehatkan. Mbak Ela pelit, medit.” gerutu Ikhwan kesal. Tak kuat menahan rasa laparnya, Ikhwanpun melahap menu sarapan yang disiplin dan familiar di sajikan di rumah biliknya yang cita rasanya jauh dari enak.




            Surya Yogyakarta kian meninggi namun langit mendung bergelayut manja. Dibalik debu yang menempel pada jam dinding yang usang menunjukkan pukul 11.00 WIB. Ikhwan masih dalam keadaannya. Tapi Ikhwan keluar rumah dan menghamburkan pandangannya seakan mencari seseorang yang dapat membantu rasa sakitnya. Dia terus berjalan melewati lorong-lorong kumuh di tempat tinggalnya yang dekat dengan TPA. Didapatinya petugas kebersihan dengan seragam kuning yang mendorong gerobak sampah dengan tertatih-tatih menuju TPA.
“ Pak tolong antarkan saya ke Puskesmas!”
“ Memangnya sampean sakit tho le?”
“ Asma saya kambuh Pak, tolong saya Pak!” ujar Ikhwan dengan suara kian melemah.

***
            Riuh gemuruh kian  mengembang dan meninggi. Hentak gementak langkah makin menjadi-jadi. Langkahku makin berat dan letih, padahal masih banyak sayur yang harus kubeli. Pikiranku berarak tak tentu arah, aku pusing dan bingung. Kini yang terlintas hanya wajah Ikhwan yang merintih dan berbaring tak berdaya di rumah sakit, serta raut duka diwajah lugu Tari dan Ilham.
“ Laa haula wa laa kuwata illa billah, Engkau Maha Membolak-balikkan nasib berilah hamba kekuatan menjalani hidup ini dari semua cobaan dan permainan-Mu yaa Rabb”, rintihku dalam hati.
Kulanjutkan langkah yang sempat terhenti untuk menyusuri pasar. Setelah sayur-mayur siap dalam keranjang, segera kukayuh sepeda tuaku untuk mengelilingi kompleks perumahan Yogyakarta yang mewah dan asri.

            Lima jam berlalu dengan cepat. Digenggamanku ada 250ribu hasil berjualan sayur. Kuayunkan langkah kakiku menuju ruang administrasi rumah sakit. Dalam keadaan payah kulanjutkan langkahku menuju kamar kelas III mawar dengan 4 bungkus nasi ditanganku. Tak kuduga ternyata Pak Said berada dalam ruang tersebut diiringi gelak canda tawa Tari, Ikhwan, dan Ilham. Pak Said adalah sosok yang kharismatik, tawadu’, dan dermawan walaupun beliau hanya seorang petugas kebersihan. Kulepaskan segala penatku hari ini dengan mereka, larut dalam suasana yang menyenangkan diantara guratan hidup yang cukup menyiksaku.

            Ruang mulai sepi, detakan jarum jam mengiringi lelapnya tiga buah hatiku. Mataku dan mata Pak Said menatap mereka bertiga dalam nafas lelapnya.
“ La keadaan Ikhwan sudah mulai membaik, apakah biaya rumah sakit Ikhwan sudah beres?”
“ Mungkin dua hari lagi Ela bisa melunasinya Pak.”
“ Jika menunggu dua hari lagi berarti biaya makin bertambah tho La.”
Injeh lah Pak tentu akan bertambah, seandainya saya jualan emas atau berlian pasti hari ini Ikhwan sudah pulang dari rumah sakit.”
“ Ela..Ela..dalam kondisi seperti ini masih saja nglawak.”
“ Tapi Ela bukan keturunan Gogon, Kirun, atau Bagio lho Pak. Memang sudah nasib Ela Pak, jadi harus ikhtiar dan tawakal.”
“ Betul La, pancen becik pinuturmu.”
Injeh Pak Said, tapi Ela………”
Wis duk pokok e sing sabar lan nerimo. Ingat La, wong sing tekun golek teken mesti bakalan tekan, ngerti tho maksud e?
Injeh Pak, Ela ngerti.”
“ Ini La, tolong diterima untuk biaya Ikhwan.”
Mboten usah Pak Said, matur suwun.”
“ Sudah diterima saja, karena ini gaji Ikhwan sebab dia pernah bantu bapak nyapu alun-alun yang kotor setelah acara Agustusan kemarin.”
“ Ya sudah Pak, karena uang ini haknya Ikhwan saya terima untuk biaya rumah sakit. Matur suwun sanget Pak Said.”
“ Iya, sudah jam tiga pagi, saatnya bapak harus dinas kebersihan.”
“ Sepagi ini Pak said?”
“ Iya La, pagi-pagi itu hawane seger La.”
“ Ini Pak, jaket Ela pakailah!”
Nggak usah, kamu tahu nggak La kalau udara pagi itu merupakan seperempat dari udara surga. Jadi bapak ingin menikmatinya secara maksimal dan optimal.”
Hallah Pak bahasa jenengan iku lho. Oke, selamat menjalankan tugas mulia dalam segarnya udara surga ya Pak, dan hati-hati lho.”
“ Iya, assalamu’alaikum.”
“ Wa’alaikum salam”.

            Mengobrol dengan Pak Said sungguh menyenangkan, tutur nasihatnya sangat merindukanku pada sosok almarhum bapak.
“ Bapak…Ela sangat rindu tutur bijakmu, Ibu…Ela sangat rindu alunan kasihmu. Andai turnamen maut Ilahi itu tidak terjadi pasti aku, Tari, Ikhwan, dan Ilham takkan serumit ini menjalani hidup. Tragedi gempa di hamparan Yogyakarta menjadi kenangan duka yang dalam.” rintihku dalam hati.

            Kubayangkan memori duka tiga tahun yang lalu. Dibalik reruntuhan bangunan rumah kulihat dengan nanar betapa Ibu sangat membutuhkan pertolongan. Tapi apa dayaku kepulan api yang semakin merambati dapur menghalangi langkahku tuk bangkit dari ruang keluarga yang berdampingan dengan dapur, dimana pagi itu Ibu sedang memasak. Bagai buah simalakama, aku bingung dan dilema siapa yang harus kuselamatkan lebih utama, apakah aku harus tetap menjaga Tari, Ikhwan, dan Ilham yang berada dalam dekapanku dengan tangisan yang menderu-deru ataukah menerjang api diantara reruntuhan dan goyangan bumi yang masih melantun dahsyat untuk menyelamatkan Ibu. Tangan, kaki, dan ragaku tak mampu menjangkau keadaan ini.

            Pasca dua hari setelah tragedi maut itu, hilang sudah semua harta benda yang keluargaku miliki. Hal yang lebih mengiris hati saat Tim SAR menginformasikan bahwa Ibu meninggal dunia dan Bapak turut menghembuskan nafas terakhirnya di rumah sakit. Gempa itu menyisakan aku, Tari, Ikhwan, Ilham dan nafas-nafas insan duka yang lain. Sore itu kupandangi bangkai rumah mewahku yang sudah luluh lantah. Kutemukan sepeda untho milik Bapak bersandar di reruntuhan bangunan. Kuambil dan kukayuh untuk sisa nasibku dan sebagai cenderamata dalam tragedi maut ini, yang hingga kini masih kugunakan untuk menyambung hidup.
“ Tiga buah hatiku, tiga senyum bahagiaku, dipenghujung malam ini tidurlah dengan lelap mungkin besok akan lebih baik. Uang dari Pak Said ini dapat membiayai Ikhwan di rumah sakit.” gumamku dalam kantuk yang sangat.

***
            Pagi ini masih mendung, langit Yogyakartapun nampak hitam kelam. Namun langkahku begitu ringan menapaki bumi ini untuk mencari rezeki-Nya.
“ Siang nanti Ikhwan akan pulang dari rumah sakit dengan keadaan sehat. Yaa Rabb…segala puji untuk-Mu, tiga senyum bahagiaku akan menerpakan keceriaan dalam hidupku dan kerinduan akan kebersamaan dalam rumah yang hampir dua minggu kami tinggal.” bisikku dalam hati.
“ Kringgg...kringggg...” ringtone jadul handponeku berbunyi.
Mbakyu…mbakyu Ikhwan, itu darah, darah dari mulut  Ikhwan. Takut, takut, Tari takut. Mbakyu cepat kesini. Takut, takut, huhuhu…..” tangis Tari menderu.
“ Iya mbakyu, Ilham juga takut, takut, darah mas Ikhwan keluar, takut. Huhuhu….” tangis Ilham tak kalah kerasnya.
“ Ada apa dengan Ikhwan? Kenapa kembaranmu Ilham? Apa yang terjadi? Kenapa kalian menangis? Kenapa? Kenapa?” tanyaku bertubi-tubi.
“ Huhuhu….huhuhu” tangis mereka berdua memecah keras.
Tutt…tutt…tutt…
“ Hallo, hallo Tari, Ilham…innalilahi wa inna ilaihi roji’un, teleponnya terputus.”
“ Apa yang terjadi dengan Ikhwan? Yaa Rabb Engkau Maha Pembawa kabar gembira, jauhkan hamba dari kabar buruk Yaa Rabb.”
Kukayuh sepeda tuaku dengan kekuatan penuh dan kugenggam handponeku erat-erat berharap Tari akan menelpon kembali.

***
“ Yaa Rabb, Engkaulah dzat yang Maha Mengampuni dosa-dosa. Tunjukilah hamba pada sebaik-baik akhlak, karena hanya Engkaulah pemberi petunjuk kepada sebaik-baik akhlak. Jauhkanlah hamba dari akhlak yang buruk, karena hanya Engkaulah yang menjauhkan keburukan-keburukan akhlak dariku. Segala kebaikan berada ditangan-Mu dan kejahatan bukan dari-Mu. Yaa Rabb, luas kursi-Mu meliputi langit dan bumi, dan Engkau tidak merasa berat memelihara keduanya. Maka dari itu peliharalah hamba untuk istiqomah berjalan pada rahmat-Mu. Yaa Rabb, Engkau penguasa dan tidak ada tuhan selain Engkau. Engkau tuhanku dan aku Hamba-Mu. Hamba hadapkan wajahku kepada dzat yang telah menciptakan langit dan bumi, dengan condong dan pasrah kuterima lantunan takdir-Mu untukku. Derita hidup, kemiskinan, kesukaran adalah hiasan iman yang dibentangkan pada hamba-Mu. Dan semua titipan-Mu untukku akan kembali pada-Mu. Ikhlaskan hamba untuk melepas apa yang telah kumiliki”, parau suaraku penuh duka.

            Dipenghujung malam bergelayut bintang dan bulan yang mulai melampaui batas, menampakkan butiran bening di sudut mata yang menetes diatas tempat sujudku. Kuikhlaskan hati atas semua yang terjadi. Aku bernafas dengan Iradah-Mu dan menjadi detak syair nurani bumi-Mu. Kulantunkan ayat-ayatMu hingga jiwa pilu ini terang benderang oleh cahaya-cahaya ilahiyat dibawah sinar fajar yang merekah menerpakan karunia kasih abadi. Kukan lanjutkan hidup untuk Tari dan Ilham dengan segala lantunan takdir-Mu. Memang benar bahwa jejak, kenangan, kehilangan dan perpisahan adalah hakikat hidup. Ikhwan selamat jalan, tersenyumlah dalam penantian ukhrawi yang kekal. “ Yaa Rabb lantunan takdir-Mu menguatkanku dalam menggapai maqam cinta-Mu”, lirihku dalam perih dan senyum.



Sinopsis Cerpen “Lantunan Takdir-Mu”
Oleh: Uswatun Hasanah

Kehilangan, perpisahan, kesukaran, dan kemiskinan adalah lantunan takdir yang dibentangkan oleh Alloh kepada setiap hamba-Nya. Demikian juga dengan lika-liku hidup yang dijalani oleh Ela. Seorang gadis yang hidup dalam lingkar kemiskinan bersama ketiga adiknya. Alunan kasih sayang dari orang tua hanya menjadi memori kerinduan dalam benak mereka. Dalam himpitan ekonomi Ela harus bertanggung jawab demi keberlangsungan hidupnya, Tari, Ikhwan, dan Ilham.
Dapatkah Ela menghadapi lantunan takdir yang rumit dan berbelit-belit..??
Selamat membaca..!!!